PASSING, Pencarian Cahaya dan Warna Edy Purnomo

 

KATHMANDU, NEPAL-AUGUST 7, 2003: A worker carries a bucket of sands to built road.

Cahaya dan warna adalah unsur yang memikat indera mata. Kedua unsur itu memikatEdy Purnomo, fotografer yang telah lebih dari satu decade mendokumentasikan manusia dan lingkungannya. Melalui kameranya, Edpur, begitu dia biasa disapa, merekam cahaya, warna, dan manusia menjadi sebuah adegan beku, namun sarat cerita.

 

Tiga belas tahun, Edy Purnomo mencari cahaya, warna, dan manusia. Mulai dari pesisir pantai Pulau Banda hingga ke negeri atap dunia, Nepal. Di setiap tempat disinggahi, selalu ada framen cahaya-warna-manusia yang membuat detak jantung Edy tertahan, dan seketika naluriah berbicara. Merekam momen menjadi sebuah foto.

 

Dieng, Indonesia 1999

Selama itu pula, karya-karya foto Edy tersimpan rapi di dokumentasi pribadinya. Tidak banyak orang yang bisa melihatnya. Sebagai fotografer profesional dengan karya yang layak disajikan ke publik, tentunya Edy mempunyai keinginan untuk berbagi. Hingga akhirnya, muncul kumpulan karya foto Edy Purnomo melalui sebuah buku berjudul Passing.

 

LHOKNGA, ACEH BESAR, INDONESIA-JANUARY 21, 2005: A cow ready to sacrifice to celebrate Eid_Adha.

Melalui Passing, Edy Purnomo mencoba memaknai perjalanan karir fotografinya. Kurun waktu itu adalah sebuah perlintasan dari masa lalu menuju ke masa yang akan datang. Perjalanan yang penuh warna tentunya.
Halaman per halaman buku diisi oleh permainan warna dan cahaya, ditambahi unsur manusia, yang sesuai judul bukunya, melintasi bingkai foto. Dan tampaknya, merah dan biru adalah warna favorit Edy Purnomo.

 

Banda island, Indonesia 2009

Kehadiran buku Passing karya Edy Purnomo tentu saja menambah daftar pustaka buku foto karya anak negeri. Saat ini, menerbitkan sebuah buku, khususnya buku foto adalah sebuah keberanian. Bukan karena kualitas karya foto yang kurang, namun lebih pada faktor teknis yaitu permodalan. Menerbitkan buku foto secara pribadi, tanpa sponsor, bisa dikatakan adalah sebuah perjuangan yang berat, karena besarnya dana yang dibutuhkan. Edy Purnomo mencoba menyiasati ongkos biaya produksi buku foto tersebut dengan mendesain buku dengan format kompak berdimensi 14×16 sentimeter. Meski mungil, gambar yang tersaji tetap dapat dinikmati karena Edy Purnomo cukup mahir memenuhi bingkai gambar dengan komposisi cahaya dan warna yang saling melengkapi.

Menerbitkan buku foto adalah impian fotografer, dan Edy Purnomo telah mewujudkan impiannya.

 

(Yuniadhi Agung – Pewarta foto Harian Kompas, co-founder Seribukata.com)

 

Undangan :

  • Peluncuran dan diskusi buku Passing karya Edy Purnomo, Sabtu 13 Oktober 2012, pukul 16.00, lobi Kuningan City ( di samping Mall Ambassador )
  • Fotografi yang Inklusif , Membangun Apresisasi Fotojurnalistik Massa Depan, Kamis, 18 Oktober 2012, pukul 18.00 WIB, lobi Kuningan City ( di samping Mall Ambassador )

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Menelusuri Labirin Kotagede

Para pencinta fotografi menikmati kehangatan warga Kotagede. Mereka memasuki ruang-ruang personal dan menjadi bagian dari warga.

One comment

  1. Benediktus Kia Assan

    Inspiratif

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.