Sejarah Foto Jurnalistik

Oleh: Taufan Wijaya

Foto jurnalistik sebagai produk jurnalistik memang tak setua jurnalistik tulis. Ia berakar dari fotografi dokumenter setelah teknik perekaman gambar secara realis ditemukan. Embrio foto jurnalistik muncul pertama kali pada Senin 16 April 1877, saat suratkabar harian The Daily Graphic di New York memuat gambar yang berisi berita kebakaran hotel dan salon pada halaman satu. Terbitan ini menjadi tonggak awal adanya foto jurnalistik pada media cetak yang saat itu hanya berupa sketsa.

Karena memotret membutuhkan keahlian khusus dan waktu lama, maka fotografer saat itu adalah seorang seniman. Kadang fotografer tidak bekerja sendirian, ia harus dibantu seorang asisten untuk membawa perlengkapan. Ia juga dibantu seorang drafter yang membuat sketsa salinan foto ke dalam plat cetakan mesin press.

Tahun 1891 surat kabar harian New York Morning Journal memelopori terbitan suratkabar dengan foto yang dicetak menggunakan halftone screen, perangkat yang mampu memindai titik-titik gambar ke dalam plat cetakan. Pada tahun 1897—saat mesin cetak semakin canggih dibuat—halftone photographs mampu dicetak dengan cepat secara massal. Kemudian fotografi dalam media cetak semakin populer.

Sifat alami manusia rupanya tertarik pada gambar. Grafis pada suratkabar menjadi daya tarik pembaca bahkan ketika era visual belum dimulai. Saat sajian foto secara banal hanya bisa dinikmati lewat produk percetakan, perkembangan foto jurnalistik bergantung pada kemajuan teknologi mesin cetak.

Terbitan The Daily Graphic yang memuat gambar terpaut lebih dari setengah abad sejak Louis J.M. Daguerre yang berkebangsaan Prancis pada 19 Agustus 1839 mengumumkan hasil eksperimen fotografinya. Setelah muncul di koran, fotografi—yang kala itu juga menjadi pertentangan apakah sebagai produk seni—terus berkembang. Kemajuan pesat fotografi tercatat pasca-tahun 1884 setelah George Eastman menciptakan film (setara ISO 24 saat ini). Kemudian kamera boks pada 1888 yang diproduksi besar-besaran melalui perusahan Kodak Eastman-nya.

DG1877Edisi The Daily Graphic 1877.

 

 

Pada 1890an Jimmy Hare, asal Inggris meliput perang Spanyol-Amerika sampai akhir Perang Dunia I dengan dua kamera yang ditenteng menyerupai tas jinjing dengan berbungkus kulit. Foto-fotonya di Illustrated American dan mingguan Collier’s Weekly meletakkan dasar-dasar kerja seorang jurnalis foto.

Perkembangan foto jurnalisik sampai pada era foto jurnalistik modern yang dikenal dengan “golden age” (1930–1950). Saat itu terbitan seperti Sports Illustrated, The Daily Mirror, The New York Daily News, Vu, dan LIFE menunjukkan eksistensinya dengan tampilan foto-foto yang menawan. Di era itu muncul nama-nama jurnalis foto seperti Robert Capa, Alfred Eisenstaedt, Margaret Bourke-White, David Seymour dan W. Eugene Smith. Lalu ada Henri Cartier-Bresson dengan gaya candid dan dokumenternya.

Cartier-Bresson, bersama Robert Capa, David Seymour, dan George Rodger kemudian mendirikan Magnum Photos pada 1947. Magnum adalah agensi foto berita pertama yang menyediakan foto jurnalistik dari berbagai isu dan belahan dunia. Para pendirinya yang “alumni” LIFE kemudian membagi area kerja; Afrika dan Timur Tengah, India dan Cina, Eropa, serta Amerika.

Selain Magnum di era golden age ada agensi Black Star yang dimotori Ernest Mayer untuk menyuplai LIFE (yang saat itu hanya memiliki empat jurnalis foto). Lalu ada Farm Security Administration (FSA) dengan foto potret yang legendaris karya fotografer Dorothea Lange, ibu dengan anaknya yang menggambarkan secara kuat depresi Amerika tahun 1930an.

dorothea_lange_migrant_mother-web

 

Foto berjudul “Migrant Mother” karya Dorothea Lange

 

Istilah foto jurnalistik dipopulerkan oleh Prof. Clifton Edom di AS tahun 1976 dengan bukunya “Photojournalism, Principles and Practices” dan lewat kuliah yang diampunya di Universitas Missouri.

 

Di Tanah Air, fotografi ditengarai masuk tahun 1841 oleh Juriaan Munich, seorang utusan kementerian kolonial lewat jalan laut di Batavia. Lalu kita mengenal nama Kassian Cephas, seorang pribumi anak angkat pasangan Belanda dengan foto pertamanya yang diidentifikasi bertahun 1875.

Sejarah foto jurnalistik Indonesia diwakili kantor berita Domei, suratkabar Asia Raya, dan agensi foto Indonesia Press Photo Service (IPPHOS).

Berbeda dengan Kassian Cephas yang cenderung mooi indie, ada nama juru foto H. M. Neeb dengan karyanya yang fenomenal kurun 1904 tentang perang Aceh. Satu foto Neeb memperlihatkan barisan tentara kolonial berdiri di atas benteng bambu dengan mayat-mayat bergeletakan di tanah. Tanpa kehadiran Neeb tak ada kesaksian perang Aceh melawan kolonial.

 

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Groepsportret_van_de_marechaussee_met_overste_Van_Daalen_bij_de_vermoorde_inwoners_van_de_versterkte_kampong_Koeto_Reh_TMnr_60009090

Foto perang Aceh tahun 1904 karya ©H. M. Neeb

 

 

Saat kedatangan Jepang pada 1942 dalam misi penjajahan, muncullah kantor berita Domei sebagai alat propaganda. Sebagian tugas fotografer adalah merekam situasi politik saat itu untuk kantor berita milik Jepang ini. Alexius “Alex” Mendur adalah kepala desk foto.

Alex Mendur, Frans Soemarto Mendur—yang sebelumnya bekerja untuk Asia Raya, JK Umbas, FF Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda kemudian mendirikan IPPHOS pada 2 Oktober 1946 di Jakarta. Saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta Frans Mendur memimpin biro foto di sana. Foto hasil reportase Frans dititipkan melalui pilot yang terbang ke Jakarta.

Foto-foto Alex dan Frans yang dibuat kurun 1945 menjadi koleksi IPPHOS. Foto yang paling fenomenal adalah imaji proklamasi 17 Agustus 1945 karya Frans Mendur.

Proklamasi_indonesia

Foto proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. © Frans Mendur/IPPHOS

 

Bulan Agustus di tahun 1945 mencekam. Tentara Heiho bersenjata masih berpatroli di jalanan Jakarta. Subuh di bulan Ramadhan tanggal 17 Agustus, dua bersaudara Alex dan Frans membawa kamera menuju kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Mereka berangkat karena mendengar informasi adanya peristiwa penting terkait perjuangan.

Akhirnya pada sekira pukul 10.00 proklamasi yang teramat penting itu terekam dalam lembaran film. Tentara Jepang yang mengetahui pendokumentasian proklamasi berhasil merampas kamera Alex Mendur. Kemudian menghancurkan pelat-pelat negatif. Namun Frans lebih beruntung dan sempat menyembunyikan negatif karyanya. Ia menanam film-film itu di bawah pohon di halaman kantor Asia Raya. Saat tentara Jepang menggeledahnya ia mengaku filmnya telah dirampas Barisan Pelopor. Ketika keadaan berangsur aman Alex dan Frans mencuri-curi kesempatan untuk mencetak foto itu di kamar gelap Kantor Berita Domei.

Meski berita proklamasi kemerdekaan itu tersiar di suratkabar esok harinya tapi foto proklamasi baru dimuat pada Februari 1946 di harian Merdeka. Kelak film bersejarah ini hilang dan hanya menyisakan lembar foto cetak.

merdeka

Foto proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di harian Merdeka edisi Februari 1946.

 

IPPHOS merekam semangat dan pergolakan politik Indonesia dalam upaya mencapai kemerdekaan (1945-1949), itulah mengapa foto-foto IPPHOS banyak digunakan sebagai arsip visual sejarah. Dalam waktu tiga bulan saja setelah proklamasi Alex dan Frans tercatat membuat tak kurang 2.500 foto.

Pada era revolusi tercatat beberapa fotografer asing memotret penggalan cerita di dalam negeri. Di antaranya adalah Cas Oorthuys dan Henri-Cartier Bresson. Cas adalah fotografer Belanda berlatar arsitek yang datang untuk proyek pengerjaan buku foto. Sedangkan Bresson adalah fotografer kamerad yang saat itu berkarya di Magnum.

 

Cas

Foto anak sekolah menenteng peta Indonesia buatan Belanda tahun 40-an. 1947 © Cas Oorthuys

cartier-bresson500

Foto penurunan lukisan gubernur pada pergantian pemerintahan di Batavia 31 Desember 1949 © Henri-Cartier Bresson

 

Perkembangan foto jurnalistik di tanah air semakin konsisten dan berkelanjutan setelah kantor berita Antara mendirikan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) tahun 1992, galeri pertama yang fokus pada foto jurnalistik. Dengan kelas foto jurnalistiknya, Antara menjadi katalis lahirnya jurnalis foto muda. Lewat jalur pendidikan mereka mengembangkan minat dan wawasan jurnalistik.

ipphos
© IPPHOS, koleksi Yudhi Soerjoatmodjo

Kini seiring lompatan teknologi yang canggih foto jurnalistik pun mengalami kemajuan yang pesat. Peralatan fotografi yang ringan memungkinkan jurnalis foto menjangkau tempat-tempat sulit dan jauh. Kamera dan lensa yang cepat memungkinkan untuk memotret aksi dan rentetan kejadian dengan sekejap. Alat pencahayaan tambahan berupa flash yang pintar juga membuat foto menjadi lebih sempurna bahkan di lorong-lorong gelap.

Era digital juga mengubah budaya foto jurnalistik dan jurnalis foto. Foto jurnalistik lebih mudah diproduksi, dikirim, disiarkan, dan dikonsumsi pembaca.

Sekarang kita mengenal wire service yang meliput isu global seperti Reuters (Inggris), Associated Press/AP (AS), Agence France Presse / AFP (Prancis), Getty Images (AS), European Pressphoto Agency / EPA (Jerman), dan agensi seperti VII (AS), Magnum (AS, UK), Noor (Belanda). Selanjutnya bermunculan kantor berita dan agensi di Asia. Dengan teknologi transmisi foto melalui internet, foto jurnalistik bisa segera diterima redaktur foto media cetak yang berlangganan, sesaat setelah kejadian berlangsung di belahan bumi lain.

Foto jurnalistik di Indonesia semakin maju karena masyarakat fotografi di tanah air peka terhadap tren foto dunia. Banyak pameran, kompetisi, dan pelatihan-pelatihan foto diadakan. Komunitas-komunitas fotografi juga bermunculan dan tumbuh. Komunitas yang dibangun dengan semangat untuk maju. Foto jurnalistik jadi satu aliran foto yang terus menerus diperbincangkan dan diulas oleh para pegiatnya. Kemajuan foto jurnalistik di tanah air juga ditandai dengan makin seringnya jurnalis-jurnalis foto Indonesia yang menjuarai kontes foto jurnalistik bergengsi tingkat internasional.()

 

 

**** Taufan Wijaya sedang belajar di Ateneo de Manila University pada program MA in Journalism. Ia membuat buku foto “Dekat Perempuan” yang berisi kisah kanker perempuan di Indonesia dan menulis buku “Foto Jurnalistik” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Menelusuri Labirin Kotagede

Para pencinta fotografi menikmati kehangatan warga Kotagede. Mereka memasuki ruang-ruang personal dan menjadi bagian dari warga.

One comment

  1. Gatry Amalia Sari

    Terimakasih atas infonya dan untuk referensi silahkan cek http://www.fotografi.blog.gunadarma.ac.id

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.