Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: CERMIN TANAKA

Tanaka Hanzaro (34) menghadiri acara private party yang diadakan di Pacific Place, Jakarta. Kaum metroseksual mudah ditemui di tempat hiburan malam, salah satunya diskotik.

Oleh: Rahmad Azhar Hutomo

Sejumlah jarum berukuran 0,2-0,5mm terpasang pada derma pen, alat microneedling elektronik yang biasa digunakan untuk perawatan kecantikan. Perlahan dan teratur, ujung-ujung jarum menekan permukaan wajah, menembus ke dalam pori-pori kulit wajah dan menimbulkan luka-luka kecil yang mengeluarkan tetesan darah. Ada rasa ngilu sekaligus ngeri saat menyaksikannya. Hari itu, Tanaka Hanzaro melakukan facial, ritual yang lama tidak dilakukannya. Kulitnya yang terbakar matahari Bali menuntut perawatan. Dari facial, sel-sel kulit mati di wajahnya akan terangkat dan tekstur kulit wajahnya kembali kenyal dan cerah. Zaman telah berubah. Perawatan tubuh dan kulit yang semula milik wanita, kini menjadi bagian dari kepercayaan diri kaum pria. “Dari tahun ke tahun ada peningkatan pasien pria, dari 5% menjadi 10%,” ungkap dr. Berlin, salah satu spesialis di sebuah klinik perawatan kulit di Jakarta.

Fenomena pria metroseksual mulai merebak sejak tahun 1994, seiring dengan artikel yang ditulis oleh Mark Simpson di harian The Independent dan terbit pada 15 November 1994. Topik ini kembali dipopulerkan dalam artikel yang juga ditulis oleh Simpson di Salon.com pada tahun 2002, yaitu “Meet the metrosexual”, yang mendaulat David Beckham sebagai role model pria metroseksual. Salon kecantikan dan dandanan rapi yang dulu dianggap tabu bagi pria kini telah berganti. Sekarang, penampilan juga menjadi bagian penting dari gaya hidup pria. Kota yang menjadi pusat perekonomian seperti Jakarta menjadi lahan sempurna untuk mengikuti derasnya arus globalisasi dan informasi yang seakan mendukung fenomena metroseksual.

Untuk menunjang profesinya di bidang pemasaran, penting bagi Tanaka menjaga kesempurnaan penampilannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Melengkapi predikatnya sebagai pria metroseksual, Tanaka menambahkan, “Dulu pas kuliah gue dapat julukan si rapi dari dosen.” Selain perawatan kulit, Tanaka juga rajin menjaga bentuk tubuhnya di pusat kebugaran. Perut six pack pun ia miliki, apalagi setelah resmi menjadi karyawan perusahaan suplemen L-men yang memiliki peraturan ketat tentang bentuk tubuh karyawan. Tidak hanya penampilan, menjaga bentuk tubuh juga menjadi tolak ukur dan ciri khas kaum urban ini. Kini, ciri pria maskulin telah bergeser. Tidak hanya berpenampilan ‘macho’, tapi juga dituntut untuk tampil rapi, wangi dan klimis. Pergeseran nilai menurut teori hirearki kebutuhan Maslow semakin berkembang. Pria tak lagi harus mampu memenuhi kebutuhan dasarnya saja, tapi mulai mencari eksistensi dan pengakuan untuk mengangkat status sosialnya.

Sejatinya, kepercayaan diri adalah esensi menjalankan hidup. Bukan tentang menjadi apa yang diinginkan orang lain, tetapi bagaimana seseorang bisa menemukan keindahan dalam dirinya sendiri. Untuk itu, rasanya tak perlu mengubah diri menjadi sesuatu yang lain. Berbanggalah atas keunikan yang kita miliki sekarang.

Keberadaan retail maupun toko-toko pakaian bermerk menjadi salah satu faktor munculnya fenomena pria metroseksual. Kota Jakarta menjadi surga bagi pria metroseksual.
Tanaka terlelap sesaat melakukan perawatan wajah (facial) di Silver International Clinic, Tebet, Jakarta. Minimal satu bulan sekali ia mengunjungi klinik perawatan wajah ini.
Bentuk tubuhnya yang ideal ini berkat rutin ngegym enam tahun lalu. Ia pernah menjadi karyawan di perusahaan suplemen Lmen yang menghasruskan memiliki tubuh six pack.
Tanaka Hanzaro berpose bak cover boy majalah pria saat menghadiri pesta tengah malam hari di salah satu sudut Pacific Place, Jakarta.

 

Rahmad Azhar Hutomo

Rahmad Azhar Hutomo lahir di Yogyakarta. Azhar menyelesaikan program Ilmu Kearsipan di Universitas Gadjah Mada pada 2014. Ketertarikannya dengan dunia fotografi bermula dari rangkaian foto aksi para pemain skateboard di majalah Transworld Skateboarding yang membuatnya terkesima. Kamera pertamanya diperoleh saat menerima beasiswa di masa kuliah. Azhar kemudian melanjutkan ilmu fotografi di Kelas Pagi Yogyakarta dan memperdalamnya di Galeri Fotografi Jurnalistik Antara (GFJA) angkatan XXI tahun 2015. Sekarang Azhar bergabung bersama National Geographic Indonesia sebagai fotografer. Karya pertamanya yang bertajuk ‘Arkamaya’ (2015) menjadi bagian penting yang dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara.

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Menelusuri Labirin Kotagede

Para pencinta fotografi menikmati kehangatan warga Kotagede. Mereka memasuki ruang-ruang personal dan menjadi bagian dari warga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.