Haji dan ‘Galau’ Fotografi

Jemaah haji tawaf di Masjidil Haram

Dialog di dalam hati:

Rizal 1: Masih ingat hadits-hadist yang melaknat para pembuat gambar mahluk yang bernyawa dimana menurut sebagian ulama ini termasuk foto? Yang antara lain menyatakan “Setiap penggambar atau pematung di neraka, dijadikan bagi setiap gambar atau patung yang dibuatnya jiwa yang akan menyiksanya di neraka?

Rizal 2: Masih. Tapi kita sudah pernah diskusi ini sebelumnya. Dan kita sampai pada kesimpulan bahwa foto tidak termasuk dalam definisi “gambar” itu karena, seperti yang disampaikan oleh Pak Quraish Shihab, foto pada hakikatnya hanyalah bayangan dari sesuatu yang ada. Bukan sesuatu yang digambar.

Rizal 1: Ya tapi khan lebih aman kalau kamu tidak melakukannya. Bisa tidak membuang waktu dan lebih konsentrasi kepada ibadahmu. Kamu bukan Saptono dan Prasetyo Utomo yang memotret di sana karena memang dalam penugasan.

Rizal 2: *paused*.

Rizal 2: Gini aja deh, kamera tetap dibawa tapi nanti hanya difokuskan untuk dokumentasi pribadi saja biar anak cucuku bisa melihat seperti apa perjalanan haji Bapak atau Kakeknya.

Rizal 1: Ya pokoknya aku sudah mengingatkan.

Kerumunan jemaah pengajian berbahasa Urdu

Di akhir dialog itu saya kemudian memutuskan untuk hanya membawa satu body kamera DSLR dan satu lensa wide saja dalam perjalanan haji bersama istri yang dijadwalkan berlangsung selama 26 hari. Saya juga menambahkan tekad untuk tidak memotret pada saat berpakaian ihram, agar lebih khusuk beribadah.

Kami meninggalkan Jakarta pada tanggal 19 Oktober. Setelah selesai melaksanakan ibadah umrah, kami bersama rombongan tinggal di apartemen transit di daerah Aziziah, Mekkah, untuk menunggu waktu wukuf dan prosesi haji lainnya. Selama waktu itu, kamera jarang keluar dari tasnya. Saya hanya mengambil sedikit dokumentasi suasana dalam kamar apartemen beserta penghuninya dan dokumentasi ketika kami mengunjungi tempat jumrah untuk berlatih melempar.

Cuaca di Mekkah pada bulan Oktober dan November sangat cerah. Orang dari segala penjuru mulai memadati daerah Aziziah. Sebagian dari mereka mendirikan tenda di taman-taman kota. Ribuan jumlahnya.

Duduk-duduk di dalam masjid

Langit biru dan tingkah polah manusia sebenarnya merupakan insentif untuk keluar dari apartemen dan memulai jeprat-jepret. Tapi entah kenapa saya tidak memiliki appetite untuk melakukannya. Saya lebih memilih mempersiapkan diri untuk hari wukuf seperti melengkapi daftar doa. Dan juga untuk housekeeping dan beristirahat.

Tanggal 24 Oktober malam kami sudah berada di padang arafah untuk persiapan wukuf esok harinya. Setelah sembahyang subuh, sembari menunggu waktu wukuf yang dimulai saat dhuhur, sebagian jamaah memilih untuk bersantai di dalam tenda dan sebagian lagi mulai memainkan kamera atau camcorder untuk mengabadikan diri mereka. Tidak terkecuali ustad pembimbing rombongan kami. Saya pun melanggar tekad dan mulai mengambil gambar saya dan istri dalam busana ihram. “Lha wong ustadnya aja foto-foto kok” kata saya dalam hati.

Pedagang pakaian

Di luar tenda, rombongan manusia tidak henti-hentinya memasuki arafah. Sebagian duduk di atap-atap bis. Saya tergerak untuk mengabadikannya. “Cukup dua puluh menit saja” kata saya dalam hati. Kamera kembali ke dalam tas setelah dua puluh menit walaupun belum ada foto yang memuaskan saya.

Wukuf di arafah adalah puncak ibadah haji. Kami menangis memohon ampunan Allah atas dosa-dosa yang kami perbuat. Segala doa saya panjatkan, termasuk doa untuk bisa banyak memenangkan kompetisi fotografi yang ada di bumi ini.

Selepas waktu ashar kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Saya dan istri telah memutuskan untuk ikut dalam rombongan yang menuju Muzdalifah dan Mina dengan berjalan kaki. Jaraknya sekitar 10 km. Di awal perjalanan ini saya sempat mengambil beberapa foto para pejalan kaki dengan latar belakang Jabal Rahmah di kejauhan. Bukit tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa itu berubah warna menjadi putih karena diselubungi oleh orang-orang berpakaian ihram. Setelah itu, tidak ada gambar yang saya ambil dalam perjalanan sekitar enam jam ke Muzdalifah. Rasa lelah, utamanya karena minimnya air minum, membuatku hanya berkonsentrasi dalam langkah kaki yang terasa berat.

Kami camping di pinggiran jalan Muzdalifah sejak tengah malam sampai waktu subuh. Selepas sembahyang berjamaah, kami kembali berjalan ke Mina. Sesampainya di Mina, saya sempatkan ambil beberapa shoot rombongan orang yang datang dari Muzdalifah.

Agenda di pagi pertama di Mina adalah mbalang jumrah aqabah. Saya telah bersiap membawa tas kamera ketika akan berangkat namun mutawif grup menyarankan untuk meninggalkannya. Ada resiko para polisi Saudi melarang membawa tas ke tempat jumrah.

Pedagang makanan

Sedikit ada penyesalan ketika melihat banyak orang bisa melewati polisi-polisi itu dengan membawa tas. Rasa penyesalan bertambah ketika melihat pemandangan ribuan manusia di seputaran area jumrah. Ada yang bercukul gundul secara berjamaah, ada yang sibuk mencari batu untuk melempar, ada yang sarapan, ada yang duduk-duduk saja, macam-macam pokoknya. Plus, lighting di pagi itu sangat elok. Dan kamera saya hanya tersimpan di dalam tenda.

Di hari kedua dan ketiga di Mina, di luar waktu melempar jumrah, saya hanya chilling out. Fisik masih terasa lelah. Saya hanya sekali keluar dari tenda untuk menyempatkan memotret potongan-potongan hati unta yang dijemur oleh para jamaah. Konon, dendeng hati unta sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit asma.

Sempat juga saya membawa kamera ketika melempar jumrah di hari kedua dan ketiga, tapi pemandangannya sudah berbeda dari hari pertama. Saya jadi tidak tertarik untuk banyak mengambil gambar.

Di hari keempat di Mina, badan sudah mulai terasa segar. Sambil menunggu waktu jumrah selepas dhuhur, saya bertekad untuk berburu foto di hari terakhir di Mina itu. Setelah sarapan, perburuan pun dimulai. Tangan seolah kangen menjepret shutter. Pasar pagi, Warna-warni jamaah dari Afrika, barang bekas, penjual baju pesta wanita (yup, baju pesta), semuanya dijepret, tak peduli bagus atau tidak.

Jemaah-jemaah berpakaian ihram

Tidak ada kegalauan saat memotret pagi itu. “Sembahyang dhuha masih bisa nanti jam 10”, pikir saya. Walaupun begitu, the first official hunting itu saya akhiri setelah waktu menunjukkan pukul sembilan.

Setelah menyelesaikan lempar jumrah, rombongan berpindah menuju kota Mekkah. The Makkah Royal Clock Tower, menara tertinggi kedua di dunia, seolah menyambut rombongan kami.

Apakah bisa membawa kamera ini ke dalam Masjidil Haram? Kalau ketahuan apakah akan disita? Kok diluar Masjid ada gambar kamera yang disilang? Apakah berdosa kalau mengambil gambar Ka’bah?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di dalam otak selama dua hari pertama kami di kota Mekkah.

Menginjak hari ketiga di Mekkah, keinginan untuk mempunyai foto Ka’bah yang dibingkai rapi dan digantung di dalam rumah membulatkan tekad saya untuk membawa kamera ke dalam Masjidil Haram. Asumsinya, kalau memang Allah tidak menghendaki, rencana ini pasti tidak akan terlaksana.

Berdasarkan pengamatan, lantai paling atas dari Masjid sepertinya tempat yang paling aman untuk memotret Ka’bah karena tidak banyak pengawasan. Saya pilih untuk masuk lewat pintu dengan tangga berjalan di sebelah pintu King Abdul Aziz Asykar di pintu masuk sama sekali tidak menyentuh tas kamera yang saya bawa.

Pemotretan dimulai seusai sembahyang sunnah ba’diyah Maghrib. Karena banyaknya orang, diperlukan kesabaran untuk mendapatkan spot di pinggir pagar yang memiliki pandangan langsung ke arah Ka’bah. Setelah menunggu beberapa waktu, satu orang Arab di depanku mempersilahkan saya untuk maju ke depan. Saya sempat berpindah tempat memotret tiga kali hingga panggilan sembahyang Isya berkumandang. Pemotretan saya akhiri dengan tidak lupa mengucap rasa syukur.

Setelah sempat memotret Ka’bah sekali lagi seusai sembahyang Subuh, tidak ada lagi rencana untuk memotret di dalam Masjid hingga setelah Maghrib saya melihat satu majelis ceramah berbahasa Urdu di lantai satu. Dari lantai dua, kerumunan orang-orang yang menghadiri majelis itu mengingatkan saya kepada foto pemakaman Gus Dur milik Trisnadi. Keesokan harinya kamera kembali kubawa ke dalam Masjid dengan harapan majelis itu ada lagi. Dan ternyata ada. Lima belas menit aku habiskan untuk memotret majelis itu sampai seorang yang tampaknya berkebangsaan India menghampiri saya dan bertanya dengan sopan dalam bahasa Inggris “Tahukah kamu bahwa orang-orang yang membuat gambar itu dosanya besar?” Saya hanya tersenyum sambil mengemasi kamera.

Seorang jemaah tertidur lelap

Satu hari setelah pemotretan majelis itu kami menuju ke Madinah. Tidak seperti di Masjidil Haram, penjagaan asykar di Masjid Nabawi sangatlah ketat. Tas selalu digeledah. Banyak jamaah bisa membawa camcorder kecil ke dalam Masjid tapi aku tidak yakin kamera DSLR akan bisa lolos. Oleh karena itu, praktis tidak banyak foto-foto yang saya ambil selama lima malam berada di Madinah selain foto-foto saat berkunjung ke Masjid Quba dan pasar kurma.

Satu malam berada di Jeddah sebelum terbang kembali ke tanah air tidak memberikan banyak kesempatan untuk memotret. Hanya ada sedikit dokumentasi diri di Masjid terapung (yang sama sekali tidak mengapung) dan para penjual pecel dan bakso di sekitar situ. Pecel lima riyal itu rasanya sama sekali tidak mengecewakan. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hanya teh botol.

Dua puluh enam hari yang awalnya terasa lama menjadi sangat sebentar. Baru satu hari berada di rumah sudah timbul kerinduan yang sangat dalam terhadap Mekkah dan Madinah. Doa pun selalu saya panjatkan untuk dapat diberikan rezeki kembali ke tanah suci. Insya Allah dengan tetap membawa kamera.

Rizal Adi Dharma, lahir di Surabaya 26 Mei 1974. Alumni Surabaya Institute of Photography dan Lembaga Pers Dr Soetomo. Tinggal di Cirendeu, Tangerang Selatan, bersama istri dan satu orang putri. Aktif mengikuti berbagai lomba foto dan salah satunya pernah menjuarai National Geographic Indonesia Photo Competition. Saat ini bekerja sebagai legal counsel di salah satu perusahaan energi.

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Menelusuri Labirin Kotagede

Para pencinta fotografi menikmati kehangatan warga Kotagede. Mereka memasuki ruang-ruang personal dan menjadi bagian dari warga.

18 comments

  1. brilian & inspiratif !! , foto dan ceritanya. trims om sudah berbagi.

  2. Story yang bagus, ceritanya asyik, juga foto fotonya. Kalau fotonya bercerita kebaikan kenapa mesti galau?

  3. wiranurmansyah

    luar biasa foto-fotonya. Memang ada beberapa pendapat tentang foto ini. Tapi menurut saya, asal tidak diniatkan untuk hal yang tidak baik, tidak mengapa. Yang jelas kalau dicetak, dan ada makhluk hidup (kecuali tumbuhan) di dalamnya, jangan dipajang karena jelas dilarang.

  4. kalau yang saya pahami (dari beberapa pendapat yang saya ambil) – sebab haramnya foto/lukisan ada pada fisiknya, jadi ketika kita memotret tapi tidak dicetak maka tidak mengapa, karena dia tidak berbentuk fisik seperti lukisan, kecuali kalau foto tersebut di cetak.. maka secara umum memotret boleh, dengan syarat tidak untuk di cetak untuk foto makhluk hidup (kecuali darurat, ky kTP, paspor dll), , kalau pemandangan, bunga (selain makhluk bernyawa) maka sah2 saja..

  5. teguh santosa

    makasih tulisannya mas.. jadi semangat nih mbawa kamera pas haji besok.. 🙂

    • pangerankodok

      kalau ada yang mirrorless lebih aman om, soalnya bodinya kecil, kemarin temen bisa masuk bawa kamera tanpa "galau" 😀

  6. If I submit my mailing address to the writer, can you please ask the author of this page to snail mail
    me additional similar information or book resources
    concerning this article?

    Feel free to surf to my web-site – minneapolis seo :: minneapolisseo.org ::

  7. top markotop

  8. Wiih, manteep!! Aku suka foto yang tiduuurr.. Jadi foto mana yang mo dibingkai dan digantung di rumah?

    Kalo foto2nya bikin orang2 mau ke Mekkah/Madinah untuk umroh/haji, bisa jadi amal pahala ngak ya? 🙂

  9. makasih ya cak oleh2 hajinya…tak dongakke sampeyan tambah rejekine wes..amien

  10. SALUUUTTTT BANGET. Dahsyat foto dokumentasinya. Berani dan SANGAT indah sudut-sudut bidiknya dan pencahayaannya. Takjub karena sempat mengatur meteringnya.

  11. Keren zal
    Thx for sharing
    Doain gw gak???

  12. very inspiring place n pictures…..sulit memutuskan keinginan hati di tengah kewajiban beribadah… dan mas rizal mampu menjalani keduanya dengan khusuk, dari foto yang ditampilkan pun tidak ada kesan ketergesaan dalam eksekusi semuanya dalam posisi tenang….salute buat mas rizal

  13. Aku suka foto tawaf di Kabah!! Kereeeeen!!! Trus, foto makan di McD mana? Yg makan nasi Mande?

  14. Tulisan keren, foto2 cakep, dan dengan topik yang menarik. Hehehe…pasti banyak malaikat2 yg suka sama karya2 elo deh. God bless you bro….

  15. Terimakasih foto-fotonya. Senang lihat dokumentasi dari pelaku ibadah.
    GBU!

  16. Mantabs mas…terus pergulatan dalam hati mas Rizal gmn? Setelah ke tanah haram, masihkah akan mangabadikan moment menarik dlm hidup mas?
    Hehehe

    Kapan bs sowan ke tempat mas iki?

  17. Mantaaaaaab! Bisa kembangkan jadi buku lengkap dengan foto-foto nih, Om!!!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.