Berekspresi di Dunia Lomografi

Nusa Dua, Bali - menggunakan Holga. Kamera Holga mempunyai ciri khas vignet (warna hitam di pinggir gambar) *Semua foto oleh Yuniadhi Agung

Anda rindu dengan masa-masa dimana ketika memotret, Anda tidak tahu hasil foto yang kita buat? Atau mungkin Anda bosan dengan hasil foto yang begitu sempurna, yang dibuat dengan kamera-kamera digital yang begitu canggih? Jika jawaban Anda, Ya!, mungkin Anda perlu menengok ke dunia lomografi.

Di era fotografi digital yang semakin laju, ada sisi alternatif bagi kita untuk berekspresi mengabadikan momen. Pada dunia lomografi, bukanlah kamera digital yang menjadi andalan. Adalah kamera-kamera sederhana yang sebagian terbuat dari bahan plastik (hingga banyak yang menyebut kamera plastik).

Ada banyak varian kamera di dunia lomografi yang masing-masing mempunyai kekhasannya sendiri-sendiri. Detil dari jenis kamera lomografi bisa anda lihat di http://www.lomography.com

Tentunya, kamera-kamera plastik ini tidak menggunakan media perekam digital. Mereka menggunakan film seluloid. Media ini boleh dikatakan telah punah setelah munculnya kamera digital. Namun, dengan maraknya lomografi, film -film yang tadinya menghuni ruang penyimpanan akan terpakai lagi.

Beberapa jenis kamera dalam rumpun lomografi (dari kiri ke kanan) Holga 135 BC, Holga, Lomo LC-A+, Lubitel, dan Diana Mini

Sejarah lomografi diawali dengan kamera yang dikembangkan oleh perusahaan bernama Leningradskoye Optiko-Mechanichesckoye Obyedinenie (LOMO), sebuah perusahaan yang memproduksi lensa untuk alat-alat kesehatan, alat-alat persenjataan, dan lensa kamera di St Petersburg, Rusia.

Pada tahun 1982, LOMO menciptakan kamera kompak otomatis, yaitu kamera LOMO LC-A. Kehadiran LC-A pada waktu itu begitu fenomenal karena seolah mendobrak keberadaan kamera-kamera lensa refleks tunggal produksi Canon dan Nikon yang sudah eksis. Kamera LOMO LC-A menghasilkan foto unik dengan vinyet hitam di sisi pinggir gambar. Hasil foto LOMO LC-A berbeda dengan kamera lain yang saat itu terus berupaya menciptakan gambar yang sempurna.

Di era tahun 1990-an, LOMO dan kamera lainnya, seperti Holga, Diana, Action Sampler, Pop 9, Oktomat, dan Horizon mulai banyak digemari karenakeunikan bentuk kamera dan gambar yang dihasilkan. Dalam perkembangannya, lahirlah lomographic society. Istilah lomografi muncul karena produsen kamera LOMO dinilai menjadi pioneer-nya.

Hingga saat ini pun masih sering terjadi salah kaprah saat orang menyebut kamera mereka sebagai kamera lomo meski sebenarnya LOMO hanya menciptakan tiga jenis kamera, yaitu LC-A, Lubitel, dan Smena.

Ocean Park, Tangerang Selatan - menggunakan LOMO LC-A+ dan Krab underwater housing
Mengapa Lomografi? Jawabannya mungkin salah satunya adalah bahwa sejatinya ada sisi kreatif dalam diri kita. Sebagai fotografer, terkadang kita jenuh dengan hasil foto yang “Sudah bisa ditebak”. Cobalah membeli salah satu jenis kamera lomografi (harga kamera bervariasi, berkisar mulai Rp 500 ribu hingga Rp 6 juta-an). Gunakan kamera tersebut untuk berburu foto.

Satu hal yang pasti, saat pertama menggunakan kamera lomografi tersebut, muncul sensasi yang mungkin tidak kita dapatkan saat memotret dengan kamera digital. Salah satunya adalah, kita tidak bisa mengetahui hasil foto yang kita buat hingga kita selesai memroses film di lab foto. Belum lagi, hasil foto akan berbeda dengan kamera digital. Lensa kamera-kamera lomografi umumnya tidak dibuat dengan material yang canggih sehingga foto yang dihasilkan tampil apa adanya dan tidak sempurna. Akan tetapi, justru ketidaksempurnaannya itulah yang membuat lomografi berbeda dan disukai banyak orang.

Jadi, mumpung ada media untuk berekspresi dan membuat kita kreatif, mengapa tidak mencobanya? (Yuniadhi Agung)


Solo Batik Festival - menggunakan holga
Penonton Festival 5 Gunung, Temanggung - menggunakan Holga
Plaza Senayan, Jakarta - menggunakan Holga 135 BC. proses film menggunakan teknik cross prosessing, yaitu film slide diproses menggunakan obat untuk film negatif.
Jalan Braga, Bandung - menggunakan LOMO LC-A+
Banjir, Jakarta - menggunakan Holga. Meski Holga menggunakan jenis film format medium, namun bisa dikreasikan dengan menggunakan film format 135, sehingga membuat gambar terekam hingga ke sekitar lubang alur film.
Tanah Lot, Bali - menggunakan LOMO LC-A+
Demo di Istana Merdeka, Jakarta - menggunakan Holga
Porong, Sidoarjo - menggunakan Holga
Porong, Sidoarjo - menggunakan Holga
Museum Prasasti, Jakarta - menggunakan Holga

Yuniadhi Agung is a Jakarta based photographer. He started his professional career in 2002 after joined Kompas.

About Yuniadhi Agung

Yuniadhi Agung adalah co-founder seribukata.com. Dia mengawali karier profesionalnya sebagai fotojurnalis di harian Kompas pada tahun 2002 dan kini menjadi foto editor di koran ternama tersebut.

Check Also

Pemenang Regional World Press Photo Contest 2024 

World Press Photo hari ini (3/4/2024) mengumumkan para pemenang regional Kontes 2024, yang menampilkan pilihan …

12 comments

  1. kalau kamera lomo hanya 3 jenis, berarti holga, dll itu bukan lomo? begitu?

  2. hahhaa,,marai kangen…mengko preweddku lomo-nen yo nda….

  3. wekekekek…. inspiring..

  4. Ajibbbb Mas Bro….

  5. KOMPAS ora salah pilih orang…he..he…

  6. belum pernah coba lomo… setelah baca ini kayaknya pengen beli dh

  7. menggilaaaaa……….!!!…..lulus deh dapet nila A+ mata kuliah foto ekspresi…ciamik luar dalam mas emye…

  8. paimo ojo sangar2 thok..mana??

  9. Sangar…

  10. let's go analog!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.