Home / Article / Amankah meliput Wabah Covid-19? TIDAK SAMA SEKALI.

Amankah meliput Wabah Covid-19? TIDAK SAMA SEKALI.

Oleh: Beawiharta

Kenapa tidak aman? Meliput wabah menular, seperti COVID-19, dapat dikatagorikan dalam meliput di area yang berbahaya, seperti meliput konflik dan bencana alam. Liputan atau memotret di area ini harus disikapi dengan luar biasa teliti dan bijak. Saya kemudian mencoba mengidentifikasi meliput wabah ini dari buku lama saya buatan Centurion di tahun 2000. Dalam buku panduan yang dikeluarkan oleh Centurion, memotret dalam keadaaan ini harus melewati kajian risk assessment. Lalu siapakah Centurion itu ?

Centurion is News organisations in conflict zones such as Iraq and Afghanistan face much the same risks as military forces. Founded in 1995, Centurion Risk Assessment Services provides first aid and survival training for journalists and aid workers. Centurion are run by former Royal Marine
commandos.

Risk Assessment atau penilaian resiko adalah evaluasi bahaya pada situasi yang akan kita hadapi. Pertama, kita harus mengidentifikasi semua bahaya yang ada. Kedua, melakukan penilaian terhadap kerusakan yang mungkin ditimbulkan. Dua hal itu kita lakukan untuk mendapat cara-cara tertentu agar kita bisa mengontrol resiko untuk mengurangi bahaya. Baca: mengurangi bahaya bukan menghilangkan. Covid-19 menjadi berbahaya kalau menular.

Identifikasinya: Menularnya dari droplet di udara ke manusia lain dan yang menempel pada benda-benda. Yang harus kita tahu, Covid-19 adalah wabah, seperti flu— yang dalam lima bulan—sudah menjangkiti 1,5 juta orang dan menewaskan 90.000 orang di seluruh dunia. Identifikasinya, menyebar sangat cepat, melalui mobilitas manusia. Terutama, di angkutan umum dan sirkulasi ruang tertutup (ber-AC). Identifikasi terakhir, virus ini tidak terlihat dan tidak teraba oleh indra manusia. Tidak terukur, tidak seperti letusan senjata api. Resikonya tertular dan sembuh dengan perawatan. Atau tertular dan mati.

Resikonya diperbesar oleh keadaan bahwa, tidak ada satu negara pun di
dunia ini yang siap menghadapinya, kecuali Taiwan. Indonesia juga tidak siap menghadapi ini, termasuk dalam hal medis. Resikonya diperbesar lagi bahwa obatnya baru saja ditemukan oleh Fujifilm, Jepang. Tapi ingat, Avigan ini obat pereda Virus Corona. Melihat resikonya yang besar, jika kita ingin memotret, kita harus membuat perbandingan antara, visual apa yang akan kita hasilkan dan resiko yang harus kita hadapi.

Sebandingkah visual yang kita hasilkan dengan resiko yang menghadang kita. Perbandingan ini harus kita buat sendiri. Karena ada fotografer yang single, dan yang sudah menikah bahkan punya anak. Yang harus diingat, tidak ada foto seharga nyawa. Tidak ada berita seharga nyawa. Kalau kita siap menghadapi resikonya, maka ini ada beberapa panduan yang bisa diikuti:

  1.  Wajib memakai masker N95, jangan memakai masker kaleng-kaleng.
  2.  Panduan jarak fisik adalah keharusan.
  3. Sedapat mungkin tidak masuk ke RS. Bila harus masuk rumah sakit, wajib
    memakai APD buatan 3M dari ujung kepala sampai ujung sepatu, serta memakai
    kacamata pelindung. Catatan, kalau tidak sangat terpaksa, sebaiknya jangan meliput ke RS. Ingat sudah banyak pekerja medis yang meninggal.
  4. Badan harus fit, kalau sakit sebaiknya tidak memotret.
  5. Harus ada sebuah ruang isolasi guna membersihkan badan.
  6. Jangan lupa semprot semua barang yang dibawa liputan dengan desinfektan sebelum masuk rumah ataupun masuk kantor, seusai liputan. Bawa kamera sesedikit mungkin.
  7. Jangan lupa cuci tangan dan mandi dengan sabun, biarkan sabun merata dan tunggu 30 detik sebelum dibilas dengan air mengalir.
  8. Bila selesai liputan APD harus dibuang ke tempat sampah setelah dibungkus dalam plastik bersegel atau dibakar.
  9. Kalau menurut logika dan pengamatan situasi lapangan, penyebaran virus terlalu berbahaya, peliputan sebaiknya dibatalkan.
  10. Cek asuransi kesehatan dari kantor, apakah terkena wabah juga dicover. Ingat tidak semua asuransi kesehatan melindungi wartawan dari peliputan wabah. Jika tidak dicover minta kantor untuk mengubahnya.
  11. Sebelum berangkat, berdoalah. Doa membuat kita lebih tenang. Ketika tenang kita bisa berpikir logis.
  12. Jangan naik kendaraan umum, juga taksi.
  13. Ketika yakin harus meliput, ingat, jangan panik. Selalu ada pintu kesalahan, tetapi kalau kita tidak panik, selalu ada pintu untuk membetulkan hal yang salah. Kuncinya ada pada logika. Dan logika tidak berjalan bila kita panik.
  14. Yang terpenting, meliput dalam situasi seperti ini menimbulkan stress pada mental. Jangan menipu nurani, nilailah kondisi mentalmu dengan benar. Stress pada mental membuat kita tidak bisa berpikir dengan benar.

Mitigasi seperti ini harus dilakukan karena wartawan dan kantor pemberi
tugas bisa menghitung berapa harga yang harus dibayar. Tanpa mitigasi akan ada banyak hal tidak terukur yang harus dibayar, dan biasanya harganya jauh lebih mahal. Contoh: kalau kita tertular, bisa jadi seluruh rumah tertular. Dan bisa jadi seluruh kantor tertular. Sebuah kantor perusahaan selular di jalan merdeka barat, Jakarta, hampir seisi gedungnya menjadi suspect corona karena rekan kerja mereka tertular covid-19. Beberapa sudah meninggal. Apakah kantor kita siap dengan itu? Dengan adanya asuransi kesehatan, kantor bisa menghitung berapa pengeluaran yang harus dibayar untuk karyawannya.

Bila tidak ada asuransi, dan seandainya karyawan terkena korona dan meninggal, bila angota keluarganya menuntut ke pengadilan. Berapa uang yang harus dibayar kantor untuk membayar ganti rugi dan membayar pengacara? Sangat jauh lebih besar dari asuransi. Liputan dalam kondisi fragile begini biasanya bukanlah sebuah keharusan. Tidak ada sebuah kantor media di seluruh dunia yang mengharuskan karyawannya untuk meliput hal ini, apalagi disertai ancaman.

Panduan ini dibuat untuk teman-temanku fotografer atau videografer dan
pekerja visual lainnya yang terpaksa harus memotret di lapangan pada saat
ini. Panduan ini masih jauh dari sempurna, dan harus diperbaiki lagi. Semua sumbang saran untuk melengkapi panduan ini diterima dengan tangan terbuka. Ditunggu komentarnya atau pertanyaannya dalam kolom dibawah. Ingat, tak ada berita seharga nyawa. Dan jika kalian mati, kantor akan menemukan penggantimu dengan mudah, tetapi anak-anakmu tidak
bisa menemukan pengganti bapak atau ibu mereka. Kalau kamu membawa wabah ke rumah atau kantor, ada orang lain yang akan menerima akibatnya.

About Bea Wiharta

Bea Wiharta
Beawiharta adalah freelance photographer dan juga member 1000kata. Ia Menyelesaikan studi di IKIP Malang pada tahun 1988 kemudian menjadi pewarta foto pada tahun 1991. Pernah bekerja di Majalah Suasana, Majalah Sinar, Tabloid olahraga GO, Majalah Gatra dan kantor berita Reuters biro Jakarta sejak 1999 hingga 2018, dengan area liputan Indonesia, East Timor, Singapore, Thailand, Malaysia, Phillipina, China, Pakistan dan Afghanistan. Bea juga berpengalaman menjadi mentor workshop fotografi di berbagai tempat termasuk, Galeri Foto Jurnalistik Antara, Permata Photojournalist Grant dan World Press Photo class di Jakarta Tahun 2002. Menjadi juri foto dalam berbagai lomba foto dan mendapatkan penghargaan berbagai lomba foto di Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Hong Kong. Twitter: @beawiharta Instagram: @beawiharta

Check Also

Inilah Pemenang Lomba Foto “Urban Life Story”

Setelah terpilih tiga nominasi, Dewan juri Beawiharta, Dita Alangkara dan Ahmad Zamroni memutuskan foto cerita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.