Home / Article / Pameran Foto ‘Mengkambinghitamkan Liyan di Asia Tenggara’ : Tidak Pernah Mudah Menjadi Berbeda.

Pameran Foto ‘Mengkambinghitamkan Liyan di Asia Tenggara’ : Tidak Pernah Mudah Menjadi Berbeda.

Jennilyn Olayres memeluk kekasihnya Michael Siaron, 30, seorang pengemudi becak yang ditembak mati orang yang tidak dikenal. Sebuah kertas bertuliskan ‘Saya seorang pengedar (narkoba), Jangan tiru saya’ diletakkan disamping jenasahnya. Menurut Olayres, Sairon bukan seorang pengedar. Foto: Raffy Lerma

 

Menyambut ulang tahunnya ke-18 yang jatuh pada 8 Desember 2018, Yayasan Tifa bekerja sama dengan SEA Junction, Bangkok dan Pannafoto Institute, Jakarta menggelar pameran foto dengan tema utama ‘Mengkambinghitamkan Liyan di Asia Tenggara’ (Scapegoating the ‘Other’ in Southeast Asia) pada tanggal 6-9 Desember 2018 di Galeri Salihara, Jakarta. Kisah pilu kehidupan kelompok minoritas yang mengalami tindakan diskriminatif dan kekerasan dihadirkan lewat bahasa visual yang menawan oleh delapan fotografer dari tiga Negara, Filipina, Bangladesh dan Indonesia.

Seorang keluarga meratap di samping jenasah seorang anak berusia 16 tahun, Nercy Galicio sebelum upacara pemakamannya. Galicio diculik dan dibunuh oleh orang tidak dikenal. Foto: Kimberly dela Cruz

 

Beberapa fotografer dari Filipina yang tergabung dalam The Night Shift mengangkat cerita kekerasan yang dialami oleh keluarga dari ribuan korban kekerasan atas nama perang terhadap narkoba yang gencar dilakukan di bawah perintah Presiden Duterte. Fotografer asal Bangladesh, Mahmud Rahman, mengangkat penderitaan para pengungsi Rohingya yang terusir dari kampung halamannya di Myanmar. Sedangkan Dwianto Wibowo dan Edy Susanto dari Indonesia mencoba memaparkan cerita pilu penganut Ahmadiyah yeng mengalami kekerasan oleh saudara-saudaranya sendiri.

Keluarga korban penembakan menggunakan penutup wajah untuk menyembunyikan identitas mereka dalam sebuah demonstrasi. Foto: Raffy Lerma
Seorang anak Rohingya menatap tanah air nya yang hilang diseberang doijaa (laut) yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh di pintu masuk Teknaf, Shah Porir Island, Bangladesh, September 2017. Foto: Mahmud Rahman (Map Photo Agency)
Reruntuhan sisa perusakan rumah jemaah Ahmadiyah oleh sekelompok orang yang intoleran di Kampung Grepek,Tanah Eak, Gereneng, Lombok Timur. Ketenangan kampung terusik oleh tindakan persekusi yang diikuti dengan aksi kekerasan memaksa pengikut Ahmadiyah untuk pergi meninggalkan tanah kelahirannya karena dianggap sesat dan berbeda keyakinan. Foto: Edy Susanto
Seorang pengungsi melintasi bilik-bilik pengungsian di asrama transito, Mataram, NTB, 6 Agustus 2012. Asrama ini terdiri dari 4 bangsal persegi panjang, 3 di antaranya dihuni masing-masing 12 keluarga samping menyamping dengan rerata luas bilik 2×3 meter. Dinding bilik terbuat dari kain spanduk atau sarung yang disangga dengan batang bambu dan kayu-kayu bekas. Sejak 2012 mereka mendapat kain gorden cokelat sumbangan jamaah Ahmadiyah di luar pengungsian. Selain untuk tidur dan berganti pakaian, tempat ini tidak layak ditinggali karena amat pengap. Saat larut malam, batuk bersahutan seperti orkes perkusi pengantar tidur. Foto: Dwianto Wibowo

 

Foto-foto dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut seakan menjadi catatan dari potongan-potongan sejarah kelam manusia. Mengajak kita peduli dan memberikan perhatian lebih pada peristiwa-peristiwa kekerasan terhadap sekelompok manusia berbeda yang dilakukan oleh manusia lain.

Selain deretan foto-foto yang dipamerkan, acara ini juga diisi dengan beberapa diskusi. Diskusi regional yang dimoderatori oleh Endy Bayuni, Direktur Eksekutif International Association of Religion Journalists (IARJ) yang juga menjabat sebagai editor senior di The Jakarta Post digelar di hari pertama. Sebagai pembicara adalah Dr. Rosalia Sciortino, Direktur Eksekutif SEA Junction, yang memaparkan akar masalah krisis demokrasi dan “politik pengkambinghitaman liyan” dalam konteks Asia Tenggara. Lebih lanjut, Lilianne Fan, seorang aktivis kemanusiaan Rohingya dari Malaysia secara spesifik menyampaikan pandangannya atas kasus kejahatan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya oleh militer Burma. Berikutnya ada Kimberly dela Cruz, seorang fotografer The Night Shift, menceritakan peristiwa kekerasan yang direkamnya menyusul perang terhadap narkotika (War on Drugs). Juga hadir Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana dan Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia.

Diskusi yang tak kalah menarik juga digelar pada Sabtu, 8 Desember 2018, mendatangkan fotografer-fotografer yang tergabung dalam komunitas 1000kata sebagai pembicara. Beawiharta, Edy Purnomo dan Yuniadhi Agung akan mengajak berdiskusi bagaimana fotojurnalistik bisa digunakan secara efektif dalam proses penyampaian pesan. Dan bagaimana sebuah foto bukan sekedar mampu menghadirkan kembali goresan-goresan memori dalam benak kita, tapi juga bisa merangkai kota-kotak sejarah manusia yang kemudian secara menarik ditampilkan kembali sebagai cerita di masa depan.

 

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Lomba Foto Asian Games 2018: Kontingen Kebaikan

  Lomba Foto ASIAN GAMES 2018 “Setiap Orang Berhak Mendapat Medali Kebaikan” Untuk para Jurnalis …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.