Home / Article / Gelombang Mimpi Anak Lombok

Gelombang Mimpi Anak Lombok

Nurissholihin (16 tahun) sekarang duduk di kelas 2 SMP. Remaja yang berasal dari Desa Grantus, Lombok tengah ini sekarang bercita-cita ingin menjadi pelukis. Photo by Ahmad Zamroni

Seorang anak tidak bisa memilih, dari keluarga macam apa mereka dilahirkan. Tidak pula bisa menentukan lahir dari ibu seperti apa, dan dari ayah yang mana. Tidak semua cukup beruntung mendapatkan keluarga yang berkecukupan dan mampu menunjang masa depan. Ataupun sekedar menganggap mereka sebagi berkah yang diberikan, sekaligus kebahagian.

Keterbatasan seakan menjadi bagian hidup mereka sejak kecil dan tak jarang kekerasan kadang mewarnai kehidupan mereka. Nasib membuat anak-anak ini tinggal di Yayasan Peduli Anak (YPA) di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sebuah yayasan yang didirikan tahun 2005, yang sekarang menjadi tempat tinggal dari sekitar 100 anak yang terditi dari anak yatim, anak jalanan, dan anak terlantar.

Tiga tahun yang lalu, tepatnya bulan Juli 2015 saya mengunjungi YPA. Selain memotret kehidupan di tempat ini, saya juga terarik untuk menangkap mimpi atau cita-cita mereka yang semuanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), lewat lukisan yang mereka gambar sendiri. Mengetahui dan mencoba mengikuti perjalanan mimpi mereka serta akan menjadi apa mereka kelak, menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi saya.

Gempa bumi 7 SR yang mengguncang Pulau Lombok pada 5 Agustus lalu, dan ratusan gempa susulan setelahnya, ikut merusak sebagian besar tempat ini. Empat rumah asrama, Sekolah Dasar, Sekolah Keterampilan, Musholla, kantor dan fasilitas penunjang lainnya sudah tidak aman lagi untuk difungsikan.

Setelah kejadian gempa besar tersebut, saya kembali ke tempat ini. Selain bertemu dengan anak-anak disini juga berbincang tentang perjalanan mimpi mereka. Saya juga melakukan pemotretan terhadap beberapa anak tersebut di depan salah satu gedung yang roboh karena gempa.

Bisa dikatakan, YPA menjadi tempat terbaik saat ini untuk manggantungkan cita-cita. Pendidikan yang diselenggarakan secara gratis dan juga pendapingan yang diberikan seakan menjadi tiket mereka untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga kerusakan yang terjadi di tempat ini, tidak akan mengganggu mereka untuk tetap merajut mimpi-mimpi mereka.

Memang, kita tidak bisa memilih, dari keluarga macam apa dilahirkan, akan tetapi kita bisa dan punya kesempatan untuk menjadi apapun yang diinginkan.

Teks dan Foto oleh Ahmad Zamroni

Arman Maulana (13 tahun) duduk di kelas 5 SD. Arman yang berasal dari daerah Ampenan, Lombok ini sekarang bercita-cita menjadi seorang pilot.
Giffal Yogianto (7 tahun) duduk di kelas 1 SMP. Egi, panggilan anak, berasal adari Desa Bertais, Mataram. Dia sampai sekarang masih bercita-cita sebagai tentara.
Siti (15 tahun) duduk di kelas 2 SMP. Gadis yang berasal dari Desa Perbawe, Lombok Tengah ini sekarang bercita-cita menjadi perawat.
Parihin (15 tahun) duduk di kelas 3 SMP. Anak yang berasal dari Praya, Lombok Tengah ini sekarang bercita-cita menjadi dokter.
Rahim Setiawan (10 tahun) duduk di kelas 5 SD. Rahim yang berasal dari desa Lingsa ini sekarang bercita-cita menjadi seorang pilot.
Rizki Maulana (15 Tahun) duduk di kelas 2 SMP. Rizki yang berasal dari desa Lingsar, Lombok Barat ini sekarang bercita-cita sebagai seorang intelejen.
Wisakurnia Taufiq (14 tahun) duduk di kelas 2 SMP. Remaja yang berasal dari daerah Praya, Lombok ini sekarang bercita-cita menjadi pemain sepakbola.
Lasmin (10 tahun) sekarang duduk di kelas 2 SMP. Gadis yang berasal dari Ampenan, Mataram ini sekarang bercita-cita menjadi juru masak.

 

About Ahmad Zamroni

Ahmad Zamroni atau Roni, adalah fotografer yang tinggal di Jakarta. Dia memulai karirnya sebagai fotojurnalis di tahun 2002. Setelah delapan tahun terakhir menjadi editor foto Forbes Indonesia Magazine, Roni memutuskan menjadi fotografer lepas baik di ranah editorial maupun komersial. Roni merupakan co-founder www.1000kata.com dan www.hatikecilvisuals.com

Check Also

Pameran Foto ‘Mengkambinghitamkan Liyan di Asia Tenggara’ : Tidak Pernah Mudah Menjadi Berbeda.

  Menyambut ulang tahunnya ke-18 yang jatuh pada 8 Desember 2018, Yayasan Tifa bekerja sama …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.