Home / Article / Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: DREAMS OF MY CHILDHOOD | MIMPI MASA KECILKU

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: DREAMS OF MY CHILDHOOD | MIMPI MASA KECILKU

Heni Prichatiningsih, seorang driver Bus Double Decker City Tour Transjakarta. Sejak kecil, wanita asal Cilacap, Jawa Tengah ini sangat suka jalan-jalan. Untuk menyalurkan kesenangannya itu, pada tahun 2004 ia melamar sebagai pramudi bus Transjakarta dan kini dipercaya mengemudikan bus wisata yang jauh lebih besar. Baginya, mengantar penumpang sampai ke tujuan dengan selamat sambil keliling kota adalah sebuah kebanggan tersendiri.
Heni Prichatiningsih, seorang driver Bus Double Decker City Tour Transjakarta. Sejak kecil, wanita asal Cilacap, Jawa Tengah ini sangat suka jalan-jalan. Untuk menyalurkan kesenangannya itu, pada tahun 2004 ia melamar sebagai pramudi bus Transjakarta dan kini dipercaya mengemudikan bus wisata yang jauh lebih besar. Baginya, mengantar penumpang sampai ke tujuan dengan selamat sambil keliling kota adalah sebuah kebanggan tersendiri.

 

Oleh: Reza Fitriyanto

Setiap insan memiliki mimpi, tanpa memandang budaya, agama, ras maupun tingkat ekonominya. Anak-anak bermimpi tentang saat mereka dewasa kelak. Saat menemukan tempat untuk berlabuh, dimana mereka bisa bertransformasi menjadi siapa pun dan apa pun yang mereka inginkan, terbebas dari keterbatasannya. Jakarta telah menjadi persinggahan bagi jutaan mimpi anak-anak di seluruh penjuru negeri. Segala keterbatasan dan ketimpangan yang ada di tempat asal menjadi alasan utama arus urbanisasi penduduk ke Jakarta. Para pengejar mimpi yang telah tumbuh dewasa pun mau tak mau harus meninggalkan kampung halaman dan mengadu nasib di Jakarta demi mewujudkan cita-citanya sejak kecil.

Kapten Nengah Sumerta misalnya, seorang pilot helikopter sebuah maskapai penerbangan swasta di Indonesia ini meraih apa yang diimpikannya saat merantau ke Jakarta. Pria asal Singaraja, Bali, ini tak menyangka apa yang menjadi impiannya menjadi kenyataan. “Dulu, saya sering melihat pesawat terbang melintas di atas kampung. Kemudian saya dan kawan-kawan sering berlari-lari mengejar pesawat itu sambil berteriak dan berharap pesawat itu akan mendarat dan memberikan sesuatu pada kami,” ujarnya ketika mengenang mimpi masa kecilnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Junko Agus, seorang instruktur pole dance bersertifikasi internasional asal Kalimantan Barat. Pria keturunan etnis Tionghoa ini sedari kecil ingin menjadi seorang public figure ternama. Seiring berjalannya waktu, ia mengenal olahraga pole dance saat hijrah dan menetap di Jakarta seusai tamat Sekolah Menengah. “Saya berasal dari kampung terpencil di Kalimantan Barat. Melalui olahraga pole dance ini, saya dapat merealisasikan impian saya ketika masih kecil, yaitu ditonton oleh banyak orang, bahkan hingga ke luar negeri,” ungkap Junko.

Kapten Nengah dan Junko merupakan sebagian kecil wujud masyarakat yang meraih mimpi dan cita-citanya di Jakarta. Mereka percaya, pindah dan menetap di Jakarta adalah sebuah langkah awal untuk mewujudkan impian mereka. Mungkin kisahnya akan berbeda jika mereka tidak meninggalkan kampung halamannya masing-masing. Para peraih mimpi ini secara implisit menarasikan semangatnya dan arti tentang sebuah kerja keras untuk meraih impian. Apa yang ditanam sejak dulu, itulah yang dituai.

 

Foto masa kecil Junko Agus saat digendong ibunya, instruktur seni olahraga senam tiang atau Pole Dance bersertifikasi internasional yang lahir di sebuah desa di Kalimantan Barat. Semasa kecil, ia ingin menjadi public figure yang ditonton banyak orang. Untuk itu, ia memutuskan merantau ke Jakarta dan menekuni olahraga senam tiang ini sebagai jalan untuk disaksikan banyak pasang mata.

Junko Agus, instruktur seni olahraga senam tiang atau Pole Dance bersertifikasi internasional yang lahir di sebuah desa di Kalimantan Barat. Semasa kecil, ia ingin menjadi public figure yang ditonton banyak orang. Untuk itu, ia memutuskan merantau ke Jakarta dan menekuni olahraga senam tiang ini sebagai jalan untuk disaksikan banyak pasang mata.
Foto masa kecil Capt. Nengah Sumerta, seorang Chief Pilot Helikopter Lion Bizjet kelahiran Singaraja, Bali. Mengantar tamu-tamu VVIP melalui jalur udara adalah tugas sehari-harinya. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang pilot karena sering melihat pesawat melintas di atas kawasan perkampungannya. Dalam foto portrait ini, ia memperagakan pose imajinasinya membayangkan menjadi seorang pilot ketika masih kanak-kanak.
Capt. Nengah Sumerta, seorang Chief Pilot Helikopter Lion Bizjet kelahiran Singaraja, Bali. Mengantar tamu-tamu VVIP melalui jalur udara adalah tugas sehari-harinya. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang pilot karena sering melihat pesawat melintas di atas kawasan perkampungannya. Dalam foto portrait ini, ia memperagakan pose imajinasinya membayangkan menjadi seorang pilot ketika masih kanak-kanak.

 

Reza Fitriyanto

 Reza Fitriyanto lahir di Yogyakarta pada 1990. Ia mengenal fotografi sejak 2008 saat bergabung di Kelompok Studi Mahasiswa Fotografi (KSM) UPN “Veteran” Yogyakarta. Reza mengawali kariernya sebagai pewarta foto saat magang di Kantor Berita Antara Foto Jakarta pada 2011. Saat ini, ia bekerja sebagai kontributor foto dan video untuk Kanal Beritagar.id.

Awalnya, Reza memandang fotografi sebagai tiket perjalanan menuju ke berbagai tempat yang diinginkannya. Namun kini ia melihat fotografi sebagai jendela untuk melihat dunia beserta manusia dan berbagai kisah hidupnya.

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: KENCANA WUNGU

  Kencana Wungu Oleh: Edy Ismail Hal-hal yang dianggap tambuh Menjadi layak dan patut untuk …

Leave a Reply