Home / Article / Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: OPERA ANTON

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: OPERA ANTON

Oleh: Muhammad Ali Wafa

Anton (25) meninggalkan Padang untuk merantau dan mencoba peruntungannya di Jakarta. Gemerlapnya kehidupan Jakarta dari layar televisi membuat Anton remaja diam-diam menyimpan keinginan dan cita-cita untuk masuk TV dan menjadi artis terkenal. Karena itu pula, Anton rela meninggalkan kuliahnya di Padang dan kemudian bekerja sebagai kasir di salah satu swalayan di Jakarta.

Di Jakarta, Anton sering mengunjungi lokasi syuting dan ikut casting, sembari terus berharap mimpinya menjadi nyata dan nasibnya akan berubah. Hingga suatu hari Anton berhasil mendapat tawaran dari agensi untuk menjadi pemain figuran. “Ini langkah kecil untuk meraih cita-citaku. Sekarang aku sudah masuk TV, artinya sudah selangkah lebih maju dari impianku,” ucapnya bangga. Awalnya, Anton hanya menjadi figuran di hari libur kerja. Merasa menemukan apa yang diimpikannya, Anton kemudian keluar dari pekerjaannya sebagai kasir dan fokus sebagai figuran. Ia sempat putus asa karena pemasukan dari figuran tidak selalu cukup untuk hidup di Jakarta.

Pendapatan Anton menjadi pemain figuran tidak besar, bahkan jauh di bawah UMR DKI Jakarta. “Total yang aku dapat paling 2 juta-an, 500 ribu buat biaya kos, 1,5 juta buat ditabung. Prinsipnya kalau aku dapat 70 ribu per hari buat jajan 20 ribu, 50 ribu buat ditabung. Kalau dapat 120 ribu, ya 100 ribu yang ditabung.” Namun dalam keadaan yang serba terbatas, Anton tetap melakoni profesinya dengan rasa senang dan syukur sehingga tetap bertahan sampai hari ini. Di tengah pendapatan yang minim, Anton tetap dituntut untuk tampil maksimal di layar kaca.

Ungkapan “setengah publik figur” mungkin cocok untuk Anton. Bekerja bareng artis ternama di layar kaca, tetapi taraf hidupnya belum tergolong mapan. Anton wajib tampil necis meski dompet tipis. Untuk urusan pakaian, Anton biasa membeli pakaian bekas di pasar yang harganya murah meriah. Anton juga biasa melakukan perawatan di salon sebulan sekali agar wajahnya tetap kinclong di depan kamera. Anton senang, mama pun bangga. Mama Anton di kampung halaman sering dipuji tetangga sehabis menonton Anton di layar TV. Momen ini menjadi bonus tambahan dari hasil figuran yang dilakoni Anton. “Aku bangga karena apa yang aku lakukan sekarang juga ikut membuat mama bangga,” ujarnya.

Tak ada yang dapat menghentikan Anton, apalagi sang mama mendukung sepenuhnya. Tak hanya mencintai profesinya, yang paling penting Anton juga mensyukurinya. Anton merasa
telah menemukan jalan hidupnya. “Walau berangkat pagi pulang pagi, aku bawa santai aja saat syuting. Semua yang ringan dan berat, aku fokus menjalaninya,” pungkasnya. A true change menurut Anton adalah mengubah keadaan agar menjadi lebih baik di masa sekarang. Menjalani profesi yang diimpikan dengan semangat dan perjuangan, agar dapat mencapai kebahagiaan yang diinginkan.

 

Muhammad Ali Wafa

Muhammad Ali Wafa lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1991. Lulusan Ilmu Politik
UIN Syarief Hidayatullah Jakarta ini mulai belajar fotografi di UKM Fotografi Kalacitra dan
saat magang di Antarafoto Jakarta. Saat ini Ali bekerja di VIVA.co.id sebagai Fotografer
harian yang meliput berita Nasional, Metro dan Olahraga. Ia juga berpartisipasi di beberapa
pameran seperti Matakita, AJI, UNICEF dan ‘Color of Jakarta 2016’.

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: CERMIN TANAKA

Oleh: Rahmad Azhar Hutomo Sejumlah jarum berukuran 0,2-0,5mm terpasang pada derma pen, alat microneedling elektronik …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.