Home / Article / Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: Membungkus ‘Perubahan’ dengan Rangkaian Kata Visual

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: Membungkus ‘Perubahan’ dengan Rangkaian Kata Visual

Sekelompok wanita bercadar saat di pantai Ancol Jakarta. Walau telah bercadar mereka tetap menjadi individu yang berusaha untuk tampil gaya tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang mereka yakini.

Kehidupan dimulai saat terjadi sebuah perubahan. Seperti waktu yang tak pernah mau menunggu, berganti dari detik menjadi menit dan kemudian menjadi jam. ‘Perubahan’ juga tidak bisa dihentikan apalagi dihindari, ia menjadi teman di setiap langkah manusia menyusuri jalan dan melewati sekat-sekat kehidupannya. Hal inilah yang coba ditampilkan oleh delapan fotografer peserta Permata Photojurnalist Grant (PPG) lewat rekaman lensa kamera mereka. Cerita-cerita perubahan anak manusia yang dibungkus dengan bahasa visual sarat makna.

Program pendidikan PPG yang ke-7 ini mengambil tema ‘Change’, menantang para pesertanya untuk mengartikan, menangkap gagasan dan kemudian menampilkannya lewat kekuatan cerita visual yang mengalir melalui bingkai-bingkai gambar.

Edy Purnomo – Head of Mentor PPG menyebut ‘perubahan itu tidak hanya bersifat fisik mau pun non fisik semata, namun bisa juga menjadi penanda sebuah fase ke arah bentuk baru yang berbeda dari bentuk sebelumnya’. Karenanya, dalam implikasi pembuatan foto bertutur-nya (photo story) para peserta didorong untuk melihat ‘Change’ dari perspektif personal.

Masing-masing peserta kemudian hadir dengan cerita-cerita tentang perubahan dalam rangkaian kata-kata visual. Beberapa bahkan tampil sangat kuat, sebut saja photo story karya Arif Hidayah berjudul ‘Kresnapaksa’ yang menggambarkan kerasnya hidup anggota geng motor di kota Bandung. Atau ‘Lara Muara’ karya Zulkifli. Peserta asal Padang ini berhasil menampilkan perubahan hidup dan alam masyarakat pesisir yang terkena abrasi lewat cara berbeda. Juga Hesti Rika lewat ‘Sister in Black’ yang menampilkan perubahan sosial di masyarakat melalui busana Niqab.

Keterlibatan saya dalam proses seleksi awal peserta PPG kali ini, memberikan sedikit celah untuk melihat perubahan cara berpikir dan kemampuan bertutur masing-masing peserta. Seperti kehidupan para subyek dalam photo story mereka, para peserta PPG juga kemudian berubah, menjadi lebih berdaya menyampaikan ide dan isi kepala mereka.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi penyelenggaraan Permata Photojournalist Grant oleh Panna Institute, Bank Permata dan Erasmus Huis, Dalam beberapa minggu kedepan 1000kata akan menampilkan foto cerita karya para peserta PPG ke-7. Photo story yang pertama adalah SISTER IN BLACK karya Hesti Rika. Semoga bisa menginspirasi. Maju terus fotografi Indonesia!

Salam,

Mast Irham

(pewarta foto, Co-founder 1000kata)

 

SISTER IN BLACK

“Kau benar-benar lebih cantik dengan cadarmu ukhti.” Sepenggal kalimat dilontarkan seorang perempuan bercadar kepada rekannya yang juga bercadar, yang lalu membalasnya dengan senyuman. Walau bibirnya tertutup dengan cadar, tapi saya bisa melihat sorot matanya yang seolah ikut tersenyum. Belakangan ini perempuan bercadar mulai mengisi ruang publik di Indonesia. Keinginan manusia yang tak terbatas, selalu ingin bergerak menembus batas. Seringkali, niat
berkerudung tak lagi cukup untuk menutupi kepala saja. Bagi sebagian muslimah, puncak hijrah adalah dengan bercadar.

Enambelas tahun telah berlalu sejak meledaknya bom di Legian Bali pada 12 Oktober 2002. Setelah tertangkapnya pelaku pengeboman, media tidak hanya mengungkap profil seorang teroris, tetapi juga menampilkan sosok istri-istri para pelaku peledakan yang hampir semuanya menggunakan cadar. Hal inilah yang membuat pemakaian cadar di Indonesia sejak dulu menjadi isu. Stigma yang umum melekat pada wanita bercadar adalah identik dengan kebudayaan Arab dan menganut paham radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme.

Namun banyak cerita di balik proses hijrah ini. Keputusan menggunakan cadar tentu tidak mudah dan tak sedikit larangan justru datang dari keluarga. Berbagai pandangan umum kerap menghakimi bahwa mereka yang mengenakan cadar hanya sebatas perempuan dengan tugas mengurusi pekerjaan domestik di rumah tangga. Tentu saja, ini tidak berlaku untuk semua perempuan bercadar. Mengenakan hanya pakaian berwarna hitam dan meninggalkan hal-hal duniawi tak mungkin dapat dilakukan sendiri. Hijrah membutuhkan dukungan, sulit jika dijalani sendiri. Kondisi seperti inilah yang memperkuat ukhuwah di antara pengguna cadar. Tak sedikit yang bercerita ketika memutuskan mengenakan cadar banyak teman yang meninggalkan mereka. Namun di sisi lain mereka juga mendapatkan teman baru yang sama-sama berhijrah. Meski kerap dicap membawa pengaruh asing, para perempuan bercadar ini tetap berusaha mengubah pandangan negatif di masyarakat. Saat ini, perempuan Muslim percaya bahwa menggunakan cadar selain sebagai salah satu upaya mengikuti sunah Rasul, juga untuk menjaga mereka agar tidak menjadi fitnah dan menarik perhatian laki-laki yang bukan muhrimnya.

Adapun cibiran bahwa “pakaian bercadar bukan kebudayaan Nusantara”, dan melabelinya sebagai “pakaian budaya Arab”, kondisi itu tidak menyurutkan para muslimah untuk tetap menggunakan cadarnya. Mereka menyakini dengan menggunakan cadar salah satu jalan menuju muslim yang kafah.
Kekhawatiran yang dihadapi sebagai wanita bercadar berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup. Para muslimah bercadar berkumpul saling bertukar pikiran, pengalaman dan juga memperluas lingkar pertemanan.
Salah satu kegiatan muslimah bercadar yaitu mempelajari prosesi pemakaman berdasarkan Alquran dan Sunnah. Ketika memutuskan untuk hijrah beberapa pengguna niqab memfokuskan dirinya kepada bagaimana memikirkan kehidupan setelah mati.

 


Hesti Rika Pratiwi

Hesti Rika lahir di Yogyakarta pada tahun 1991. Ia mengenal fotografi sejak 2009 saat melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Ia aktif mengikuti sejumlah pameran salah satunya pameran bertema ‘Jogja Tumbuh’. Saat pindah ke Jakarta, Hesti mengawali kariernya sebagai fotografer untuk perusahaan maskapai Batik Air. Namun hasratnya yang kuat di bidang jurnalistik membawanya bergabung ke CNNIndonesia.com
pada tahun 2017. Isu mengenai identitas mempunyai keunikan tersendiri bagi Hesti sebagai jurnalis foto.

 

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: CERMIN TANAKA

Oleh: Rahmad Azhar Hutomo Sejumlah jarum berukuran 0,2-0,5mm terpasang pada derma pen, alat microneedling elektronik …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.