Home / Book / Buku Foto LITE

Buku Foto LITE

Memotret dengan kamera telepon selular kini dilakukan oleh para pemilik gawai. Semua orang menjadi fotografer. Dunia fotografi belum pernah semeriah saat ini. Setiap individu bebas memotret apa yang mereka suka.

Selain menjadi media perekam, gawai kini menjadi alat untuk berkreasi, merekam imaji dan menyiarkannya ke media sosial.

Buku foto LITE karya Yuniadhi Agung (Instagram: @yuniadhiagung) menyajikan foto-foto dari kamera gawai yang menemani aktivitasnya sehari-hari. Yuniadhi Agung merekam apa saja yang menarik bagi matanya. Kamera gawainya menangkap permainan bayangan, komposisi, dan warna menjadi deretan foto yang unik.

Melalui LITE, Yuniadhi Agung merayakan fotografi yang kian ringan…dan seru.

Simak terus 1000 kata dan instagram 1000 kata @1000kata untuk informasi preorder buku foto LITE dengan harga khusus.

__________

Yuniadhi Agung adalah co-founder 1000 Kata. Sehari-hari berprofesi sebagai fotojurnalis di harian Kompas. Karya-karya fotonya dipublikasikan dalam buku foto Mata Hati: Kumpulan foto Kompas, Cincin Api, Melihat Indonesia, dan Kompas Unpublished. Bersama 1000 Kata menerbitkan 2 buku foto, yaitu NESW (North East South West – tahun 2014) dan #IniNegriku (2016). LITE adalah monogram pertamanya.

 

 

Membuka Batas Fotografi

Oleh Arbain Rambey

Fotografi itu adalah hal yang membicarakan “batas”. Mana tepi atas, mana tepi bawah, mana tepi kiri dan mana tepi kanan. Sebuah foto menjadi indah dan bagus karena batasnya jelas. Pemandangan yang bagus akan tampak buruk kalau difoto dengan batas-batas tidak jelas: pohonnya terpotong, horisonnya miring, atau danaunya cuma tampak secuil, dan sebagainya. Keahlian seorang fotografer akan tampak dari caranya mencari batas pada foto yang dibuatnya, atau dalam bahasa kerennya: sang fotografer jago bikin komposisi. Jadi, salah sartu elemen penting dalam fotografi memang komposisi yang sampai kapan pun tidak bisa dibuat Auto.

Yuniadhi Agung, fotografer Kompas, kembali menerbitkan buku fotonya. Dan dalam buku yang ini, Agung benar-benar main “batas”. Foto-foto yang dihasilkannya sungguh-sungguh memainkan komposisi, bahkan dalam tatanan sangat sempit: area yang dibatasinya sungguh area-area kecil. Yang disebut berlatih fotografi adalah “menemukan” apa yang akan dipotret. Pemula akan menemukan pemandangan-pemandangan luas, sementara kalau makin sering memotret seorang fotografer akan makin menemukan “pemandangan” dalam area lebih kecil, lebih kecil dan lebih kecil lagi.

Buku Yuniadhi Agung ini bukan cuma memberi kita penyegaran mata, tetapi juga memberi kita opsi dalam melihat. Area-area sempit yang dipotret Agung akhirnya membawa kita untuk melihat area-area yang lebih besar dengan pemahaman baru tanpa kita merasa didikte.

Arbain Rambey – Fotografer Profesional

_____________


Semakin berkembangnya zaman dan semakin berkembangnya teknologi yang memberikan berbagai macam pilihan gadget dan keunggulan pada fitur kamera smartphone, kini memudahkan siapapun untuk menangkap momen foto hanya dengan menggunakan sentuhan pada kamera smartphonenya.

Kehadiran buku foto LITE bagi saya seorang penikmat seni fotografi dan pengguna kamera smartphone, telah membuka wawasan saya semakin luas.

Menangkap foto dengan kamera pada smartphone ternyata bisa menghasilkan karya seni yang luar biasa. Yuniadhi Agung, telah menyuguhkan karya foto yang bukan hanya sekadar foto biasa, tetapi dengan jeli ia menyuguhkan cerita pada setiap foto dengan komposisi warna, cahaya , objek dan berbagai momen yang tepat.

Yuniadhi Agung berhasil membuat karya foto  Indah yang didapatkan dengan cara sederhana hanya dengan menggunakan kamera smartphone.

Titi Nurmalasari – karyawati, memotret dengan kamera gawai

 

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Workshop Doc.Now!: Temporary Displacement

Kelompok 3 Workshop Fotografi Doc.Now! Kami sebagai mentor mencoba mengajak para peserta untuk bercerita mengenai …

Leave a Reply