Home / Events and Grants / TAPESTRI KEMERDEKAAN: Rajutan Visual Untuk Masa Depan

TAPESTRI KEMERDEKAAN: Rajutan Visual Untuk Masa Depan

Ada sebuah foto yang kemungkinan besar diambil oleh Frans Mendur dari IPPHOS kira-kira pada bulan oktober 1945. Tampak Sjahrir, Sukarno dan Hatta sedang duduk diatas bangku rotan. Sukarno yang ada di tengah sedang berbicara, sementara Hatta menyimak dan Sjahrir bermain dengan jarinya.

Foto yang berlatar di kediaman Sukarno di jalan Pegangsaan Timur no 56 (sekarang jalan proklamasi) itu tidak ada keterangan beritanya tapi diduga kuat mereka bertiga sedang membicarakan keadaan politik nasional paska proklamasi kemerdekaan dan kedatangan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang dipimpin oleh Van Mook.

Sejarah mencatat bahwa kemudian Sjahrir diangkat sebagai Perdama Menteri pada 14 November 1945. Sukarno dan Hatta tetap sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Ketiga tokoh ini kemudian terkenal dalam mengawal demokrasi saat itu. Iklim demokrasi memang dimunculkan waktu itu guna menghadapi perubahan politik Internasional setelah Perang Dunia II. Meskipun ketiganya mempunyai pandangan politik yang berbeda, tetapi untuk urusan bangsa dan negara mereka tetap satu kata.

Foto Triumvirat Republik (Sukarno, Hatta, Sjahrir) beserta ceritanya itu merupakan satu dari 60 foto yang dipajang di pameran bertajuk “TAPESTRI KEMERDEKAAN”. Pameran yang bertempat di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Pasar Baru, Jakarta Pusat itu akan berlangsung dari 23 Agustus sampai 23 September 2017.

Disaat yang sama, diluncurkan juga buku TAPESTRI KEMERDEKAAN yang merupakan seri terakhir dari Trilogi HISTORI MASA DEPAN (2015), BINGKISAN REVOLUSI (2016). Sebanyak 207 foto ada di buku serial terakhir ini yang dirangkai sedemikian rupa sebagai upaya merekonstruksi sejarah perjalanan bangsa melalui bahasa visual.

Setelah sebelumnya menampilkan 13 foto langka saat detik-detik proklamasi di Buku Historia Masa Depan. Kemudian dilanjutkan dengan peluncuran saduran komik grafis karya Flip Peeters, serdadu Belanda yang bertugas di Jawa Tengah dalam kurun waktu 1947-1950 pada Buku Bingkisan Revolusi. Pada buku Tapestri Kemerdekaan ini tetap menampilkan foto-foto yang jarang dilihat publik dari koleksi IPPHOS-Antara Foto kerjasama dengan Museum Bronbeek Arnhem, Rijk Museum Amsterdam, Nationaal Archief Den Haag dan Nederlands Fotomuseum.

Pengertian “Tapestri” sendiri menurut kurator GFJA Oscar Motuloh, adalah bermakna rajutan tekstil aneka motif buatan tangan. Tapestri Kemerdekaan merupakan rajutan para perintis negeri dan segenap rakyatnya menuju sebuah kebersamaan dan sesuatu yang lebih baik di masa depan.

About Prasetyo Utomo

Prasetyo Utomo
Prasetyo Utomo, lahir di Blora, Jawa Tengah. Mengawali karir sebagai pewarta foto di Kantor Berita ANTARA pada tahun 2006 sampai sekarang. Selama bekerja di ANTARA meliput beberapa peristiwa penting seperti Piala Asia 2007, Upacara pemecahan rekor selam massal di Sail Bunaken tahun 2009, Liputan ibadah haji di Arab Saudi tahun 2011, Sea Games Myanmar 2013 dan sejumlah peristiwa penting lainnya. Pada tahun 2012, Lulusan Universitas Diponegoro Semarang ini mengeluarkan buku foto tentang perjalanan Haji dengan judul “ Makkah Photographic Diary’ “. Beberapa penghargaan juga pernah diterima antara lain Anugerah Adiwarta tahun 2008 dan 2009 untuk foto terbaik bidang hukum, olah raga dan ekonomi.

Check Also

VR 360°, Cara Baru dalam Bercerita

Sekitar satu dekade yang lalu, saya berkesempatan untuk berkenalan dengan Virtual Reality 360° (VR 360°) …

Leave a Reply