Home / Article / 71 th RI, BINGKISAN REVOLUSI

71 th RI, BINGKISAN REVOLUSI

Patroli tentara Belanda melewati perkebunan kina, di lereng Pegunungan Arjuno, Jawa Timur (Batu, Juli 1947). Album prajurit Charles van der Heijden-Koleksi Museum Bronbeek.
Patroli tentara Belanda melewati perkebunan kina, di lereng Pegunungan Arjuno, Jawa Timur (Batu, Juli 1947). Album prajurit Charles van der Heijden-Koleksi Museum Bronbeek.

 

Minimnya pemahaman sejarah menjadikan kita terpuruk ke belakang. Hingga hari ini masyarakat kita masih diarahkan dalam kerangka berpikir yang ahistoris, sebab bangsa ini hanya akan dikondisikan menjadi sekumpulan zombi yang tentu tak perlu paham akan identitasnya-Kolektif 70K74

(dibaca Jokja; kelompok kerja para perupa grafis muda Jogja yang dipelopori Digie Sigit, Teguh Hertanto, Wimbo Praharso pada 2014. Mereka membuat dan memasang karya di tembok kota, di jalan raya, dan ruang publik lain untuk mendekatkan karya seni kepada publiknya. Karya mereka bertema sosial karenanya kajian dan logika sejarah menjadi penting bagi konten karya mereka)

Generasi kontemporer adalah insan millennium  yang memiliki pasangan setia bernama gadget. Perangkat super cerdas itu menemani mereka berselancar mengarungi peradaban berkode sandi “no pix, hoax”. Gadget itu menjadi perangkat domestik bagi jiwa generasi kekinian, meskipun gawai cerdas itu bukan anggota tubuh mereka secara fisik. Dia menjadi elemen PR alias humas (medsos tentunya) sekaligus berfungsi sebagai jubir setia generasi. Begitu dasyatnya fenomena ini sehingga subyek superlative sinergi “aku” dan kamera, memperoleh kosakata baru dalam kamus sebagai “selfie”. Gambar wajib ada demi menyertai sebentuk eksistensi.

Jika dihitung sejak penghujung Perang Revolusi Kemerdekaan Indonesia, tujuhpuluh satu tahun silam, maka sekarang, kawula mereka, generasi ketiga kaum menengah, mulai memimpin seraya memegang kemudi ke arah mana peradaban republik kita bakal bertiup. Mereka melayarkan bahtera jaman. Meninggalkan generasi perintis yang masih tersisa, dari sebentuk era yang penuh gejolak dengan kisah dan epos nan heroik, bergelimang peluh, airmata serta darah dari putra-putri generasi kontemporer pada jamannya. Mereka adalah para perintis negeri yang sadar bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai dengan mempersatukan keberagaman suku bangsa di tanah air sebagai kekuatan yang memancarkan kemuliaan bagi negeri yang kelak bernama Republik Indonesia.

Mobilisasi TNI kembali ke daerah masing-masing, setelah diberlakukannya genjatan senjata (Ponorogo, 23 Oktober 1949).  Koonings-Nationaal Archief
Mobilisasi TNI kembali ke daerah masing-masing, setelah diberlakukannya genjatan senjata (Ponorogo, 23 Oktober 1949).Koonings-Nationaal Archief

Mereka berhasil mempersatukan bhineka Indonesia menjadi sebentuk kekuatan sakral yang mengemban misi merebut kemerdekaan. Dengan kharisma dan ketokohan dwi-tunggal Bung Karno dan Bung Hatta, perjuangan menghapuskan penjajahan merasuk ke dalam sanubari setiap pemuda seraya menyerahkan pilihan sesuai selera pada aspek mereka masing-masing. Setiap profesi mengambil perannya. Dari pena dan kamera, sampai sangkur yang terhunus; dari kembang sampai letusan mesiu. Kemerdekaan tak lagi menjadi sekadar idealisme, dia telah menjadi tren bagi generasi muda untuk ikut berpartisipasi. Saat rakyat dengan aneka kemajemukan bersatu, maka mereka tak mungkin dikalahkan.

Demokrasi terus menggelinding sesuai dengan corak dan romansa pemimpinnya, sementara hari jadi ke 71 tahun Republik yang tengah kita rayakan saat ini mengandung seutas pertanyaan, adakah pondasi lima sila yang dikerek republik ke puncak peradaban, mampu berkibar dengan lestari dari generasi ke generasi dan mengalir sampai jauh?. Seperi juga pertanyaan, tanpa beberapa lembar imaji fotografi karya Mendur Bersaudara di Pegangsaan Timur 56 pada tanggal 17 Agustus 1945, adakah kita memiliki identitas sebagai sebentuk bangsa yang merdeka?

Merawat dan mengamalkan kemerdekaan adalah kata kunci, termasuk melestarikan sejarah sebagai bekal pembelajaran bagi para tunas bangsa. Amanat tersebut  tak kalah mulia dan heroik dibanding dengan bagaimana cara memperolehnya. Sejarah bukan dipendam sebagai artefak keramat, atau disimpan dalam gadget kita sebagai memori yang ditekan hanya ketika dibutuhkan. Dalam misi merawat kemerdekaan, dengan segala keterbatasannya, Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) tumbuh untuk mengembannya, sejak didirikan pada 27 Desember 1992, tentu dalam spesifikasi di bidangnya, yakni fotografi.

Pameran perdana “Kilas Balik” yang menandai peresmian fungsi baru dari gedung bersejarah itu juga hadir dengan koleksi foto bersejarah. “Tahun-tahun Mujizat” (kurator: Yudhi Soerjoatmodjo) yang pameran kelilingnya digelar khusus untuk memperingati hut ke 50 RI, lalu menjadi barometer untuk mengupayakan pelacakan foto-foto berlatar sejarah yang sebisa mungkin dicuplik dari sumber primernya, seluloid film negatif, atau reproduksi dari cetakan asli. Waktu mencatat, museum dan GFJA kemudian  menghadirkan pameran demi pameran, penerbitan demi penerbitan bertema sejarah visual setiap tahunnya.

Imaji bersejarah yang dimaksud terus digali dan diperkaya, bekerjasama dengan lembaga-lembaga arsip dalam dan mancanegara yang relevan dengan babakan sejarah modern Indonesia. Dua tahun belakangan ini, Kantor Berita Antara menugaskan GFJA membangun kerjasama kearsipan dengan Museum Bronbeek Arnhem yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Kerajaan Belanda. Dalam semangat keterbukaan pada sumber sejarah yang dimiliki masing-masing lembaga, maka semakin banyak imaji periode perang revolusi kemerdekaan Indonesia yang dapat kita simak sebagai sumber pengetahuan sejarah visual terbarukan untuk diteliti dan diserap maknanya bagi masyarakat dan generasi kita selanjutnya.

Kurator kepala Museum Bronbeek, Pauljac Verhoeven dan wakilnya, Hans van den Akker serta peneliti sejarah Willy Adriaans adalah insan generasi ketiga dari generasi Belanda yang serdadunya yang ikut bertempur di Hindia Belanda pada periode yang genting bagi lahirnya Republik Indonesia. Mereka melihat arsip bukan lagi sebagai artefak yang harus dibekap dalam laci-laci baja dengan kunci rahasia. Mereka adalah cucu-cucu seteru revolusi yang melihat bahwa imaji fotografi perihal  perang dan akibatnya harus menjadi sumber dah hikmah pelajaran berharga dalam membangun persepsi dan persahabatan di antara dua negara secara bijak, positif dan terbuka.

Para veteran prajurit kerajaan Belanda pernah melakukan protes keras, ketika Museum Bronbeek mengadakan pameran foto sejarah bekerjasama dengan GFJA dan Antara Foto yang digelar sepanjang tahun 2015 di Museum yang beridiri di atas tanah kerajaan seluas 5 hektar itu. Pasalnya karena Museum Bronbeek menggunakan tajuk pameran dengan judul “OORLOG! Van Indie tot Indonesia 1945-1950” (PERANG! Dari Hindia Belanda ke Indonesia 1945-1950). Para pemrotes menentang penggunaan kata Oorlog alias Perang sebagai judul pameran, mereka mempertahankan kata aksi polisional sebagai padanan yang cocok dengan intisari pameran.

Kurator pameran akhirnya menggelar seminar sekaligus konferensi pers untuk menjelaskan mengapa museum dengan program indipenden dan secara kelembagaan berada di bawah kementerian pertahanan malahan menggunakan kata perang dalam font berskala besar. Tak hanya itu, mereka juga bahkan menuliskan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bukan tanggal 27 Desember 1949 seperti yang diakui kebanyakan pihak di Belanda. Hans v.d. Akker yang mewakili Museum Bronbeek, ketika itu menjelaskan bahwa jaman telah berubah, generasi masa kini harus dapat melihat dengan jelas mengapa tentara kerajaan Hindia Belanda (KNIL), harus kembali ke Indonesia dan melakukan dua kali Agresi Militer yang bertujuan menguasai kembali bekas tanah jajahannya padahal dwitunggal Proklamator telah mengumandangkan Proklamasi Indonesia di Pegangsaan Timur 56 pada tanggal 17 Agustus 1945.

Santai menikmati keindahan Bromo.  Album prajurit Charles van der Heijden-Koleksi Museum Bronbeek
Santai menikmati keindahan Bromo.
Album prajurit Charles van der Heijden-Koleksi Museum Bronbeek

Agar upaya penghimpunan materi dapat mencapai hasil yang maksimal, maka GFJA dan Divisi Pemberitaan Foto Antara menggandeng Museum Bronbeek dan Arsip Nasional Republik Indonesia dalam suatu yang kerjasama yang  intensif. Misi pendokumentasian visual, khususnya di bidang fotografi bersejarah periode 1945-1950 semakin digalakkan pelaksanaannya. Tajuk pameran dan penerbitan novel grafis edisi bahasa Indonesia serta publikasi buku sejarah tahun ini adalah, “71th RI: Bingkisan Revolusi”, didalamnya terkandung; sumbangan tulisan dan materi foto-foto, sketsa, komik, filateli, dari para sahabat yang seiring dalam perjalanan menghantar misi GFJA kepada masyarakat seluas-luasnya.

Bingkisan Revolusi diawali dengan artikel sumbangan sejarawan Rusdhy Hoesein (drama pemberangkatan rahasia keluarga dwitunggal Bung Karno-Bung Hatta disertai sejumlah anggota kabinet dengan  Kereta Api Luarbiasa, KLB), malam hari 3 Januari 1946,  dari lintasan rel di belakang kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56, sekarang jalan Proklamasi menuju ibukota baru di Yogyakarta). Meskipun foto dari persitiwa tersebut tak pernah ditemukan, namun serangkaian foto lama dan imaji terkini dari Museum Transportasi TMII yang menjadi rumah baru dari KLB bersejarah itu dihadirkan kembali untuk menggambarkan suasana dan kondisi dari drama peristiwa bersejarah yang berangsur mulai dilupakan.

Kurator fotografi, Firman Ichsan menuliskan kisah tentang tiga amplop yang disimpan ayahnya, mendiang Moch.Ichsan. Amplop berisi imaji yang memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Tiga amplop tersebut masing-masing berisi foto-foto berukuran mini, ada beberapa lembar pas foto para pejabat republik yang akan menghadiri pertemuan di India, namun perjalanan itu tak pernah ada karena terjadi Agresi Militer kedua Belanda,19 Desember 1948. Ada juga foto-foto perjalanan rombongan presiden ke Sumatera, dan Aceh untuk bertemu dengan para petinggi dan saudagar Aceh yang menyumbangkan harta benda mereka untuk membeli pesawat yang kemudian terkenal sebagai “Seulawah”. Seluruh foto-foto tersebut adalah bidikan pewarta foto IPPHOS yang memiliki hubungan baik dengan Moch. Ichsan sebagai kepala sekretariat  dan rumah tangga Istana.

Peneliti senior Museum Bronbeek, Willy Adriaans, menyumbangkan bingkisan berupa tulisan berdasarkan penelitiannya atas buku harian yang dilengkapi dengan foto dan ilustrasi yang disusun dengan menarik oleh pemiliknya, prajurit wamil Hindia Belanda, Charles van der Heijden.  Di samping tugasnya sebagai serdadu, Charles juga rajin menulis dan memotret sehingga dia diberi tugas ekstra di bagian pers KNIL sebagai editor, korektor dan fotografer yang menghimpun foto-foto karya sejawatnya. Hasilnya akan menjadi materi yang diterbitkan di jurnal prajurit dan publikasi internal lainnya. Dalam sejumlah album yang tersusun rapi itu, Charles juga getol membuat sketsa dan kartun yang menghiasi buku hariannya selama dia bertugas di Jawa Timur pada periode 1946-1949.

Sementara itu, Museum Bronbeek menerbitkan catatan harian unik milik prajurit wamil Flip Peeters yang mendadak ditugaskan ke Hindia Belanda, padahal dia merencanakan menikah dengan pacarnya, Gerda, pada tahun yang sama. Dikuratori Hans van den Akker, buku harian Flip itu kemudian disusun dengan gaya novel grafis,  dipamerkan sekaligus diterbitkan dengan judul “Lieve Gerda” di Museum Bronbeek pada tahun 2011. Dalam rangkaian pameran “Bingkisan Revolusi” ini, novel grafis yang dimaksud dapat kita nikmati  untuk pertama kalinya dalam edisi bahasa Indonesia.  Novel grafis “Gerda Sayang” itu dialihbahasa dari bahasa Belanda oleh Willy Adriaans.

Charles maupun Flip, adalah dua prajurit yang bertugas dalam periode kurang lebih sama, hanya lingkup lokasi tugas yang berbeda, mereka memperlihatkan  catatan dan kesan yang tak melulu militer. Dalam medium yang berbeda, mereka mengesankan tertarik pada sisi humanistik atas alam dan panorama Indonesia. Mereka juga memberi penghargaan pada keberanian dan daya juang prajurit TNI yang mereka hadapi di medan laga. Dalam sapuan pensil berwarna, Flip dengan terbuka bahkan menulis perjumpaan yang menggetarkan dengan satu regu pasukan TNI bersenjata lengkap, beruntung pertemuan itu berlangsung dalam suasana gencatan senjata. Flip sejatinya, sudah gemetar setengah mati.

Penulis dan peneliti komik Indonesia, Seno Gumira Ajidarma menyumbangkan esei tentang dua tokoh komik Indonesia peranakan.  Kho Wan Gie (1908-1983)  pencipta komik strip pertama Indonesia di koran Sin Po, yang terkenal dengan tokohnya, “Put On”. Harian itu dibreidel tentara pendudukan Jepang (1942-1946) dan tak pernah terbit lagi.  Juga duo Kwik Ing Hoo (1921-2010) dan Lie Djoen Liem pencipta “Wiro Anak Rimba” (10 jilid), tokoh imajiner asli Indonesia, meskipun terpengaruh dengan tokoh Tarzan ciptaan  Edgar Rice Burroughs dan “Jungle Book” dari Rudyard Kipling, “Wiro”, tetaplah merupakan suatu karya fenomenal dalam blantika komik Indonesia. Salah satu episoda, “Melawan Tentara Jepang” (jilid 9), menjadi salah satu petualangan Wiro yang menarik.

bingkisan revolusi

Kehadiran filateli edisi Wina dan Philadelpia yang dicetak sebagai edisi propaganda koleksi Judi Arto, dan pameran benda-benda pos koleksi pengamat filateli Jan Darmadi melengkapi “Bingkisan Revolusi” untuk kita nikmati sebagai sejarah dan juga romansa korespondensi di era revolusi. Ada juga karya pelukis ternama Srihadi Sudharsono ketika berusia 14 tahun, saat itu dia bergabung dengan Tentara Pelajar Solo. Srihadi mendapat tugas untuk menggambar bangkai pesawat Dakota VT-CLA yang jatuh usai menjalankan misi kemanusiaan pada 29 Juli 1947 di desa Ngoto dekat Maguwo. Dakota nahas itu ditembak jatuh dua pesawat tempur Belanda, menewaskan komodor Adisucipto, komodor Abdurrahman Saleh, juru radio Adisumarmo Wirjokusumo.

Mengikuti alur buku harian Charles v.d Heijden, kronik buku ini dilengkapi dengan foto-foto para pewarta foto IPPHOS yang belum pernah diterbitkan, serta beberapa sketsa Henk Ngantung (koleksi Rusdhy Hoesein) dalam konferensi Linggarjati di Cirebon. Dari beragam profesi kita melihat romantika perjalanan bangsa dalam secuil cerita dan imaji sejarah.  Sejarah bukan berhala yang harus disembah dan dikebut dengan asap kemenyan, dia adalah jiwa bagi serumpun bangsa dalam negara untuk melangkah ke depan. Negeri ini bukan milik kita, dia adalah warisan bagi putra-putra generasi mendatang Indonesia.

Ketika masyarakat muda urban sibuk mencari pokemon di pelosok koordinat nusantara, sekelompok perupa grafis muda angkatan Reformasi bersiap memasang memasang karya grafis terbaru mereka di ruang publik, di suatu sudut jalan raya kota Yogyakarta yang berselubung polusi visual nan akut. Pada sepotong permukaan temboknya tampak mbok Srumbung, kuli angkut pasar Beringharjo tengah memegang cat semprot dengan teks yang tertulis besar-besar, …masa depan adalah hari ini, mari kita perjuangkan! Dalam penerbitan ini kolektif 70K74 menyumbang satu karya berupa tafsir visual atas makna kemerdekaan yang diberi judul, “Fatmawati dan Soekarno”.

Sejarah kebhinekaan Indonesia, dengan segenap kemerdekaan budaya, seni dan tradisinya adalah warisan terpenting generasi perintis yang nyata. Warisan yang wajib dirawat sebagai jejak dan identitas untuk kelangsungan masa depan bangsa kita.  Masa penjajahan telah tumpas, namun pengelola negeri harus mampu mengatasi gejala kolonialisme baru berupa penerapan secara implisit paham di luar lima-sila yang menjadi falsafah Indonesia. Kemerdekaan hadir untuk memuliakan kemanusiaan dan peradaban yang terbangun darinya, sedangkan peradaban ada untuk merayakan kehidupan, bukan untuk menebar benci dan perintah kematian.

 

Oscar Motuloh

Oscar Motuloh adalah Kurator sekaligus Direktur Eksekutif Galeri Foto Jurnalistik Antara.

 

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Pencak Dor, Tarung Bebas ala Santri

Sebuah adegan pertarungan yang liar dan tanpa teknik terlihat diatas sebuah panggung bambu berukuran 4×8 …

Leave a Reply