Home / Book / 365 Hari Merekam Wajah Solo

365 Hari Merekam Wajah Solo

Neli (tengah) bersama kakak-kakaknya di dalam tenda potable yang didirikan orang tua mereka yang berjualan di kawasan pertokoan di Jalan Urip Sumoharjo Solo. Menurut peraturan baru pemerintah kota, Pedagang Kaki Lima di sepanjang jalan tersebut hanya diperbolehkan berjualan pada malam hari. FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama/15.
Hari ke-282. Neli (tengah) bersama kakak-kakaknya di dalam tenda potable yang didirikan orang tua mereka yang berjualan di kawasan pertokoan di Jalan Urip Sumoharjo Solo. Menurut peraturan baru pemerintah kota, Pedagang Kaki Lima di sepanjang jalan tersebut hanya diperbolehkan berjualan pada malam hari. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

Bisakah kita melewatkan satu hari dalam setahun tanpa sebuah foto? mungkin saja jawabnya bisa!. Tapi bagi Maulana Surya Tri Utama, fotografer dari Kota Solo, Jawa Tengah, pertanyaan tersebut adalah sebuah tantangan. Pria bertubuh kekar dan berjenggot panjang itu berupaya menunaikan satu cita-citanya: memotret apapun yang ada di kota Solo, sepanjang tahun tanpa terlewat satu hari pun!

Maulana Surya Tri Utama (27) adalah orang daerah Kampung Sewu, Solo, keturuan Pulau Bangka, Sumatera. Dia setia menemani ibunya. Ayahnya adalah pelaut yang pulang setahun sekali, sementara dua kakaknya kini telah berkeluarga. Setidaknya itu yang saya tahu. Saya berteman dengan Maulana sejak 2007, saat bersama-sama menyalurkan kesenangan di meja Fisip Fotografi Club (FFC), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi di Fisip Universitas Sebelas Maret Solo.

Satu program kerja FFC yang saat itu kami lahap ialah one day one photo, memotret setiap hari dan mengunggahnya di Facebook. Nah, dari situ lah sebenarnya ide proyek memotret setiap hari selama satu tahun ini berawal.

Maul, begitu dia biasa dipanggil,  adalah orang yang ambisius dan cinta kampung halaman. Dia melanjutkan proyek ini ke tahap yang lebih serius, yakni memotret satu hari satu foto di Solo. Atau jangan-jangan, proyek ini jadi alasan agar dia tidak meninggalkan Solo seperti rekan fotografer lain seperjuangannya. Ya, kalau dia merantau, siapa yang menemi ibunya di rumah?

Bertahun-tahun Maul mencoba mengerjakan proyek ini, tapi selalu gagal. Ada saja hal-hal yang merintanginya sehingga harus meninggalkan kota budaya tersebut. Misalnya saja, dia mesti magang di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Jakarta pada 2010 atau menemani ibunya mudik ke Bangka tahun 2011.

Ambisi one day one photo yang sudah lama terpenjara di batinnya, akhirnya terealisasi di tahun 2015. Bak orang yang terpenjara dan haus akan dunia luar, Maul mengelilingi Solo setiap hari, setiap saat. Matanya tak pernah lepas mengamati semua aktivitas apapun yang ada di Solo. Saya jarang bertemu muka dengan Maul karena saya bekerja di Jakarta. Dalam kesempatan pertemuan dengan Maul di Solo, kami berbincang tentang proyek one day one photo Maul langsung men”curhat”kan kelanjutan proyek foto itu. Saya tak keberatan. Justru bersyukur, karena bertahun-tahun saya menunggu karya Maul itu. “Faces of Solo (Memotret Kota Menggali Para Tetangga)”, adalah judul buku yang dipilih Maul. Judul buku itu mengguncang rasa penasaran saya. Lewat judul itu, ia benar-benar telah mengetuk hati saya, seorang warga tetangga Solo.

Sejujurnya, jika harus dibicarakan, saya sendiri sempat lupa dengan proyek itu. Terakhir berbincang mengenai proyeknya, Maul membocorkan bahwa akan memamerkan karyanya di semester satu tahun 2016. Tentu saya sedikit kecewa. Mengapa Maul tak memamerkannya lebih cepat? Karena saya pribadi amat menunggunya. Berbagai sisi kehidupan ia sajikan. Ragam produk budaya yang menjadi ciri khas Solo ia tuangkan dengan mudah, seperti menuangkan Gempol Pleret di mangkuk. Tapi Gempol Pleret pun butuh gula, yaitu potret pembangunan di Solo yang maju.

Maul tidak hanya memotret kota, tapi juga memotret tetangga. Maul ingin menunjukkan bahwa dia lebih mengenal tetangganya daripada perantau. Seperti foto penggembala Sapi di subuh hari yang difoto beberapa meter dari kontrakan saya. Enam tahun tinggal di tempat itu, baru kali ini saya mengenal kegiatan pagi si penggembala tersebut.

Warga Kentingan, Sri Widodo (43) mengembalakan sapi ternak milik keluarganya di kawasan Solo Teknopark, Jebres. Sapi-sapi itu biasa makan rumput disana hingga kenyang dan akan digembalakan kembali di hari kemudian.
Hari ke-66. Warga Kentingan, Sri Widodo (43) mengembalakan sapi ternak milik keluarganya di kawasan Solo Teknopark, Jebres. Sapi-sapi itu biasa makan rumput disana hingga kenyang dan akan digembalakan kembali di hari kemudian. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

 

Tapi, dari 365 foto yang ada, satu yang paling membuat saya tersenyum adalah potret seorang warga Solo yang tengah melakukan binaraga di sebuah pusat kebugaran alias tempat fitnes. Potret itu melontarkan ingatan saya 9 tahun lalu, saat pertama kali mengenal Maul. Mengapa? Karena saat itu Maul memasang foto diri setengah telanjang dengan pose atlet binaraga yang sedang melakukan kontes di tanda pengenal mahasiswa baru!!

Maul memang menggeluti dunia binaraga selama SMA hingga awal kuliah. Seperti atlet binaragawan lainnya, dia rutin berlatih di tempat fitness. Beberapa temannya, termasuk saya, sering memaksa ia untuk mencopot bajunya hanya untuk menertawakan tubuh maskulin Maul yang beda dari yang lain. Tapi sekali lagi, Kontributor Foto LKBN Antara ini adalah orang yang besar hatinya. Ia mengabaikan tertawaan temannya. Bahkan, dia tak segan mengikuti ajang kejuaraan bodybuilding contest.

 

Sebagian orang berolahraga di pusat kebugaran karena ingin sehat atau untuk memiliki tubuh atletis. Hanya beberapa orang yang menekuni fitnes untuk menjadi atlet binaraga. Sang-sang Budiatmojo, atlet binaraga Solo dibatu temannya mengukur lingkar lengan untuk mengetahui masa otot untuk persiapan kontes nasional binaraga.
Hari ke-303. Sebagian orang berolahraga di pusat kebugaran karena ingin sehat atau untuk memiliki tubuh atletis. Hanya beberapa orang yang menekuni fitnes untuk menjadi atlet binaraga. Sang-sang Budiatmojo, atlet binaraga Solo dibatu temannya mengukur lingkar lengan untuk mengetahui masa otot untuk persiapan kontes nasional binaraga. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

Cukup membicarakan tubuh Maul. Kembali ke buku Faces of Solo, Ada cerita menarik saat pecinta karya Iwan Fals ini mengerjakan proyeknya. Di tengah perjalanannya mengerjakan karya itu, tepatnya pada 4 Maret 2016, pukul 19.00, ponselnya berdering. Sebuah urusan penting memaksa Maul terbang ke Jakarta keesokan harinya, pukul 07.00.

Kabar itu membuatnya pusing. Bagaimana tidak, artinya ia mesti memotret satu karya sebelum pesawatnya terbang ke Jakarta. Maul terpaksa bangun dini hari agar punya waktu untuk mengerjakan proyeknya. Akhirnya, ia memotret satu foto aktivitas tukang becak Pasar Gede, Solo. Foto yang diambil pada masa subuh itu akhirnya melengkapi 365 foto sepanjang tahun 2015 dengan beragam waktu.

 

Tukang becak bersantai sambil menunggu orang-orang yang mau memanfaatkan jasa mereka di Pasar Gede Solo. Para pedagang mamupun pembeli seringkali memanfaatkan jasa tukang becak itu untuk mengangkut barang dagangan.
Hari ke-64. Tukang becak bersantai sambil menunggu orang-orang yang mau memanfaatkan jasa mereka di Pasar Gede Solo. Para pedagang mamupun pembeli seringkali memanfaatkan jasa tukang becak itu untuk mengangkut barang dagangan. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

 

Maul memamerkan dan meluncurkan buku berjudul Faces of Solo itu pada 27 Agustus 2016. Melalui Faces of Solo, Anda bisa melihat Kota Solo selama 2015 hanya dalam satu buku saja. Buku ini adalah diari fotografinya selama setahun. Faces of Solo dikemas menarik dan dicetak seperti layaknya sebuah kalender meja. Bedanya, jika kalender umumnya kadaluarsa dalam setahun, “kalender” ini bisa kita nikmati sepanjang masa. Semoga buku Faces of Solo dapat menginspirasi kita semua. Selamat Maul, kamu sudah mewujudkan salah satu impianmu!

Dan tentu saja, saya telah memesan satu buku Faces of Solo !.

(Teks oleh Herka Yanis Pangaribowo, foto-foto oleh Maulana Surya Tri Utama)

 

buku Faces of Solo - kemah
Buku Foto “Faces of Solo” karya Maulana Surya Tri Utama

 

Sejumlah pemain teater bercanda sebelum memainkan lakon Sedulur Papat dalam pembukaan Solo Batik Carnival 8 ?Mancavarna?. Dalam filosofi Jawa, Sedulur Papat Kalima Pancer (saudara empat dan ke lima dianggap sebagai unsur yang dianggap menjaga pertumbuhan. Bahkan sejak janin masih berada dalam kandungan.
Hari ke-164 .Sejumlah pemain teater bercanda sebelum memainkan lakon Sedulur Papat dalam pembukaan Solo Batik Carnival 8. Dalam filosofi Jawa, Sedulur Papat Kalima Pancer (saudara empat dan ke lima dianggap sebagai unsur yang dianggap menjaga pertumbuhan. Bahkan sejak janin masih berada dalam kandungan. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

 

Sepasang kekasih menikmati fenomena supermon di Stadion Manahan Solo, sambil menunggu situasi kondusif akibat kerusuhan suporter sepakbola Pasoepati setelah pertandingan tim Persis Solo.
Hari ke-149. Sepasang kekasih menikmati fenomena supermon di Stadion Manahan Solo, sambil menunggu situasi kondusif akibat kerusuhan suporter sepakbola Pasoepati setelah pertandingan tim Persis Solo. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

 

Pekerja membongkar sisa-sisa bangunan Pasar Klewer, yang terbakar pada akhir tahun 2014, untuk selanjutnya dilakukan pembangunan ulang sekaligus revitalisasi. Aktivitas jual beli di Pasar Klewer sementara dipindahkan di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara.
Hari ke-169. Pekerja membongkar sisa-sisa bangunan Pasar Klewer, yang terbakar pada akhir tahun 2014, untuk selanjutnya dilakukan pembangunan ulang sekaligus revitalisasi. Aktivitas jual beli di Pasar Klewer sementara dipindahkan di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

 

Seusai mengikuti pelatihan dan pemagangan jurusan Salon, Dwi Riyanti (kanan) melakukan praktek perawatan rambut kepada tetangganya di Kampung Sewu, Solo. Selain jurusan salon, palatihan gratis itu juga memberikan kesempatan kepada peserta yang berminat pada jurusan Teknisi Komputer, Menjahit dan Otomotif.
Hari ke-251. Seusai mengikuti pelatihan dan pemagangan jurusan Salon, Dwi Riyanti (kanan) melakukan praktek perawatan rambut kepada tetangganya di Kampung Sewu, Solo. Selain jurusan salon, palatihan gratis itu juga memberikan kesempatan kepada peserta yang berminat pada jurusan Teknisi Komputer, Menjahit dan Otomotif. Foto: FACESofSOLO/Maulana Surya Tri Utama

 

pameran_1385
Suasana pembukaan pameran foto “Faces of Solo” karya Maulana Surya Tri Utama di Lumbung Batik Laweyan, Solo, 27 Agustus 2016.

 

Pameran Foto Faces of Solo-2
Pengunjung berswafoto di antara karya-karya foto yang dipamerkan dalam pameran foto “Faces of Solo” karya Maulana Surya Tri Utama di Lumbung Batik Laweyan, Solo, 27 Agustus 2016.

Herka Yanis Pangaribowo

Herka Yanis Pangaribowo, petani yang tengah asyik bekerja sebagai pewarta foto di Tabloid BOLA. Instagram: @herkayanis

 

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Pencak Dor, Tarung Bebas ala Santri

Sebuah adegan pertarungan yang liar dan tanpa teknik terlihat diatas sebuah panggung bambu berukuran 4×8 …

Leave a Reply