Home / Article / Anugerah Pewarta Foto Indonesia, Visual dan Makna

Anugerah Pewarta Foto Indonesia, Visual dan Makna

Tinjau Titik Api, Karya Abriansyah Liberto, Pemenang Photo of the Year APFI 2016

Mencari foto-foto terbaik dari 3500 foto yang diterima panitia bukanlah tugas yang mudah. Saya, Enny Nuraheni, Hariyanto, Agus Susanto, Bay Ismoyo, Ed Wray, dan Oscar Motuloh dengan isi kepala dan latar berbeda-beda, tak sekadar mencari visual yang menarik, tapi juga harus menemukan foto-foto dengan konten kuat.

Diskusi yang ‘panas’ namun konstruktif, diselingi adu argumen yang seru menjadi sesi menarik dalam proses penentuan pemenang. Foto kandidat pemenang pun dibahas dengan berbagai pertimbangan dari masing-masing juri. Mulai dari selera visual, proses pengambilan foto, momen hingga news value menjadi poin bahasan.

Tahun 2015 memang bukan tahun yang sepi berita. Peristiwa politik dan sosial, kecelakaan transportasi hingga kebakaran lahan di Sumatra dan Kalimantan hampir setiap hari menghiasi halaman depan surat kabar nasional. Foto-foto inilah yang kemudian mendominasi kontes foto Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) yang sudah berjalan untuk ke-6 kalinya.

Salah satu isu yang sempat hangat dibahas dewan juri adalah apakah konten dan faktor kedekatan sebuah peristiwa menjadi dominan dalam penentuan pemenang, dibandingkan dengan kekuatan visual? Seperti tahun-tahun sebelumnya, panitia juga menerima karya-karya fotojurnalistik yang dihasilkan fotografer indonesia di luar negeri. Ketika sebuah karya foto dengan visual kuat dan menarik, namun isu yang dibawa adalah sebuah isu global yang tidak terlalu dekat dengan publik lokal, maka kemudian akankah menjadi menarik di mata juri dan sesuai dengan kriteria sebagai pemenang? Jawabannya bisa dilihat dari foto-foto juara yang baru saja diumumkan. Hasil diskusi dewan juri tentu menjadi catatan penting bagi APFI untuk kemajuan dan perbaikan ke depan.

Sebagai sebuah kontes fotografi, APFI adalah salah satu yang paling ditunggu setiap tahunnya. Selain banyaknya jumlah peserta yang berpartisipasi, APFI juga selalu berhasil memilih foto-foto jurnalistik terbaik sebagai pemenang. tidak sekedar menampilkan gambar-gambar yang memanjakan mata, tapi juga menunjukkan kedalaman konten jurnalistik yang kuat. Walaupun masih banyak foto ‘kurang layak lomba’ diterima panitia, namun foto-foto berkualitas cukup banyak terlihat dalam kontes kali ini.

Tengoklah foto berjudul ‘Tinjau Titik Api’ karya Abriansyah Liberto, yang menampilkan sosok Presiden Jokowi didampingi dua pembantu utamanya, kapolri dan panglima TNI, menunjukkan ekspresi muram saat meninjau lokasi kebakaran lahan di Sumatra Selatan. Foto ini terpilih sebagai foto terbaik, selain karena kekuatan visualnya, juga pesan yang ingin disampaikan, bahwa kebakaran lahan yang terjadi nyaris setiap tahun akibat kelalaian dan rakusnya pihak-pihak tertentu, berdampak sangat besar bagi kehidupan warga. Bahkan menyesakkan dada warga negara tetangga. Sungguh sebuah hal yang memusingkan bahkan bagi tiga orang paling berpengaruh di negara ini.

Atau lihatlah foto ‘Gagal Resepsi’ yang menampilkan sepasang pengantin lengkap dengan pakaian adat, saat terpaksa mengungsi dari kediaman mereka yang terbakar. Mempelai perempuan dengan kebaya dan make-up yang masih melekat tampak lesu dalam gendongan seorang kerabat, sedangkan mempelai pria berjalan di belakang sambil memanggul barang yang tersisa. foto ini sangat dalam maknanya bagi saya dan sebagian juri yang lain. Seakan menunjukkan pahitnya hidup kaum pinggiran, bahkan di hari paling bahagia mereka. Foto karya Tahta Aidilla ini juga sempat dipilih sebagai calon kuat foto terbaik.

Foto story dengan pendekatan portrait ‘Mereka Yang Menerjang Angin’ karya Ramdani juga memberi warna lain, menjadi cara baru yang menarik dalam menyampaikan sebuah pesan. Lupakan foto-foto kepadatan lalu lintas pemudik lebaran, Ramdani menampilkan fenomena mudik lewat portrait para ‘pejuang’ bermotor lengkap dengan barang bawaannya. Para pemudik motor yang rela menerjang angin dan menantang bahaya atas nama silaturahmi.

Suara berat Ed Wray saat beradu argumen, diselingi petikan gitar Jack Johnson dari speaker portable yang selalu dibawa-bawa Oscar Motuloh menjadi pengantar terpilihnya foto-foto terbaik APFI 2016. Ketidakpuasan pasti tersisa, karena subyektifitas tidak pernah bisa ditiadakan. Namun kesepakatan para juri dengan berbagai referensi yang dimiliki diharapkan bisa menghasilkan pilihan terbaik.

Setiap foto berhak menjadi yang terbaik, tapi yang terpenting adalah ketika sebuah foto berhasil berbicara 1000kata dan menyampaikan sebuah makna.

Selamat untuk para pemenang. Bravo Pewarta Foto Indonesia!

 

Mast Irham,

(Anggota dewan juri APFI 2016, Co-founder 1000kata)

Tinjau Titik Api, Karya Abriansyah Liberto, Pemenang Photo of the Year APFI 2016
Tinjau Titik Api, Karya Abriansyah Liberto, Pemenang Photo of the Year APFI 2016
Gagal Resepsi Pengantin perempuan pingsan saat api melahap pemukiman padat di kawasan kebon melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (5/3). Angin yang besar dan padatnya pemukiman mengakibatkan ratusan rumah ludes terbakar.Foto:Tahta Aidilla/Republika
Gagal Resepsi Karya Tahta Aidilla, Juara 1 katagori Spot News
Pemudik motor Cahyo, tujuan Tegal, Jawa Tengah di SPBU Ciasem, Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Minggu (12/7/2015). Menggunakan motor, mudik membawa pakaian lebaran dan oleh-oleh untuk sanak saudara dan pacarnya di kampung halaman. MI/RAMDANI MEREKA YANG MENERJANG ANGINJelang Idul Fitri, bagi sebagian orang, pulang bukan lagi pilihan. Ya, pulang kembali ke orang-orang terkasih di kampung halaman merupakan ritual ‘wajib’ yang mesti dilakoni, bagaimanapun caranya, apa pun risikonya. Itulah yang dilakoni sebagian pemudik bermotor. Terpaan angin, rasa lelah, dan kantuk, belum lagi risiko tersambar kendaraan besar, harus siap mereka hadapi. Lalu Marzuki ialah salah satu diantara ribuan pemudik yang nekat menggunakan moda transportasi ini. Saat ditemui di stasiun pengisian bahan bakar umum di Sukamandi, Ciasem, Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2015), dia mengaku baru pertama kali mudik naik kuda besi ini. Kali ini, Zuki mengajak istri dan anaknya, serta beberapa barang bawaan. Tujuannya lumayan jauh, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Itu artinya, dia baru menempuh sepersekian kilometer dari total ribuan kilometer perjalanannya dari Jakarta. “Kalau mau enak tinggal naik angkutan umum, kalau mau murah tinggal ikut mudikgratis, sekarang gampang kan.Namun, bukan itu. Kebetul anak istri saya suka travelling dan berpetualang, makanya kami enggak masalah mudik ke Lombok menggunakan motor,” tutur Zuki tentang aksi nekatnya itu.“Nikmati perjalanannya saja. Kalau capek, ya, istirahat. Enggak usah dipaksa, tidur dimana saja sedapatnya, perjalanan dua hari satu malam enggak bakal berasa, dan yang pasti kita punya banyak cerita,” imbuhnya. Zuki tentu saja tak sendiri. Pemudik lainnya, bahkan mengaku sudah sejak 2002 pulang ke kampungnya di Tegal, Jawa Tengah, naik motor. Mudik memang telah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat Indonesia, khususnya jelang Idul Fitri. Orang berbondong-bondong dengan berbagai macam bawaan pulang ke kampung halaman demi berlebaran bersama keluarga
Salah satu foto dari Essay ‘Mereka Yang Menerjang Angin’ Karya Ramdani, Juara 3 katagori Foto Essay
The Fish Catcher Karya Yusuf Ahmad, Juara 3 Katagori People in the News
Penonton mengabadikan Christina Perri ketika tempil dalam Jakarta International Java Jazz Festival, Kemayoran, Jakarta, Minggu (8/3/2015).Tingginya perkembangan teknologi dan pemasaran telepon genggam membuat indonesia menjadi salah satu kosumen utama dimana total pasarnya mencapai 8,3 juta unit pada kuartal terakhir 2015, atau naik 14,4 persen dari hanya 7,3 juta unit pada triwulan terakhir 2014. JP/AWO.
Nomophobia Karya Seto Wardana, Juara 2 Katagori Art and Entertainment
Warga terbakar saat ikut simulasi penanganan bencana di Kantor Walikota Jakarta Utara, Kamis (10/12/2015). Terbakarnya warga tersebut diakibatkan saat membantu memadamkan api saat simulasi yang diadakan Walikota Jakarta Utara.
Terbakar Hidup-Hidup, Karya Faizal Fanani, Juara 2 Katagori Spot News
Pemain Portal FC yang juga mantan pemain Arema Malang Emil Mbamba (kanan) menerima saweran uang dari seorang penonton usai mencetak gol pada pertandingan final liga kampung yang berlangsung di lapangan Latus Jaya Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (14/6). Berhentinya kompetisi di Indonesia akibat dibekukannya PSSI oleh Menpora membuat banyak pesepakbola klub - klub peserta ISL yang mengikuti Tarkam (pertandingan antar kampung) yang tujuannya untuk menjaga kebugaran dan juga penghasilannya dari sepak bola. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Pemain Bola Disawer, Karya Muhammad Iqbal, Juara 2 Katagori Sport
Shalat adha berkabut asap : Ribuan umat muslim melintasi di jembatan ampera sepulangnya meraka mengerjakan shalat idul adha dari masjid agung Kota Palembang, Kamis (24/09). Tahun ini warga Kota Palembang shalat idul adha di selimuti tebalnya kabut sap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di sumatera selatan. FOTO : Alhadi Farid/Palembang Ekspres
Shalat Adha Berkabut Asap, Karya Alhadi Farid, Juara 1 Katagori Environment
Patuh Lalu Lintas, Karya Jefri Tarigan, Juara 1 Katagori Daily Life

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Permata Photojournalist Grant (PPG) VII: LARA MUARA

Oleh: Zulkifli  Tanpa disadari, perubahan iklim telah menjadi permasalahan besar yang dihadapi bumi. Dimulai dengan naiknya permukaan …

2 comments

  1. Firman Firdaus

    Selamat buat para pemenang! Great stuffs!

  2. Bisa gak ya, nama penulis dicetak sebelum artikel?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.