Home / Book / #iniNegriku MERANGKAI KEPINGAN NUSANTARA

#iniNegriku MERANGKAI KEPINGAN NUSANTARA

 

COver

BUKU FOTO #iniNegriku

MERANGKAI KEPINGAN NUSANTARA

Nusantara….Imajinasi sejenak melayang mendengar kata sederhana itu. Sebuah kata yang bisa melukiskan apa dan siapa negeri Indonesia itu. Alam eksotis, budaya heterogen, manusia yang ramah adalah beberapa dari banyak kepingan imajinasi tentang Nusantara.

Beranjak dari situlah, 1000kata bekerja sama dengan Garuda Indonesia dan Samsung NX1 mencoba merangkai kepingan tersebut menjadi sebuah bingkai Nusantara melalui buku foto #iniNegriku. Buku setebal 180 halaman ini, berisi tentang perjalanan visual sembilan pewarta foto dengan kemampuan dan ciri khas masing-masing memotret kehidupan sehari-hari masyarakat di sepuluh kota. Sepuluh kota itu adalah Ende, Putusibau, Langgur, Ternate, Banyuwangi, Sibolga, Sumba, Sorong, Berau dan Bima

Encau Anyi bersiap ke ladang di kampung suku dayak Kenyah, Merasa, Berau
Encau Anyi bersiap ke ladang di kampung suku dayak Kenyah, Merasa, Berau. Foto: Prasetyo Utomo

Nusantara itu luas karena menyatukan barat dan timur, mendekatkan utara dan selatan. Banyak sekali tempat yang menawarkan romantisme. Sebut saja Sabang, titik nol kilometer Indonesia ini menyimpan berbagai keindahan. Budaya Islam yang kental membalut nadi kehidupan masyarakatnya.

Dari Sabang di ujung barat, kita melangkah jauh ke timur menuju Papua. Sebuah tempat yang namanya melalangbuana ke manca negara. Adalah Raja Ampat, kepulauan yang letaknya di sebelah barat laut kota Sorong itu merupakan surga terakhir kekayaan bawah laut paling lengkap di Bumi. Kekayaan biota ini telah menjadikan Raja Ampat sebagai perpustakaan hidup dari koleksi terumbu karang paling beragam di dunia. Belum lagi lansekap pulau pulau kapur di Wayag yang tersebar harmonis. Bagi para pelancong, Raja Ampat adalah candu.

Masih di timur Indonesia, sebuah tempat dimana bertemunya gunung dan laut. Gunung-gunung hijau berpadu serasi dengan laut yang biru. Ternate adalah mutiara dari timur. Sisa keagungan kesultanan Ternate dan jejak kolonial tersebar di sudut kota ini. Menjadi saksi betapa sengitnya persaingan bangsa eropa untuk mengusahi perdagangan rempah rempah saat itu.

Di Pulau Kalimantan, surga tersembunyi ada di Berau dan Putusibau. Kearifan budaya lokal bergandengan dengan alam yang masih perawan, mencoba berjalan ditengah arus modernisasi yang begitu kuat.

Nafas bahari dan antropologis kota tua tersaji di kota Langgur, Saparua dan Ambon. Menjelajah Langgur di Pulau Kei Kecil membuat kita harus mundur beberapa langkah dari kebiasaan sebagai manusia modern. Di sana kita tak lagi membutuhkan segala bentuk mesin modern bernama mobil, tak lagi membutuhkan kotak ajaib penghubung dunia maya. Di Langgur kita menjelajah kekunoan mesin-mesin waktu masa lampau. Kita kembali kepada kodrat bahwa sesungguhnya kita tidak membutuhkan apa-apa kecuali makanan enak secukupnya dan jiwa kita membutuhkan persetubuhan dengan alam indah yang tak pernah habis.

Berajak menuju selatan ke Sumba dan Bima. Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke tempat itu tanpa ada cerita tentang kuda dan sabana. Kuda bagi orang Sumba dan Bima adalah segalanya. Tidak hanya sebagai status dan simbol kekayaan, mereka percaya kuda adalah kendaraan nenek moyangnya. Ketika kuda meringkik, saat itulah leluhur mereka sedang datang.

Warga beraktivitas di Pasar Bahari Berkesan, Ternate
Warga beraktivitas di Pasar Bahari Berkesan, Ternate. Foto: Dita Alangkara

Masih di selatan nusantara. Di tanah Flores atau tepatnya di Ende, kota yang menawarkan wisata sejarah, tradisi dan alam. Di masa lalu, Ende adalah kota tempat pengasingan tokoh proklamasi Sukarno dan Hatta. Mayoritas penduduk di tanah Flores menganut agama katolik. Namun, banyaknya pendatang dari luar membuat tempat ini menjadi berwarna. Mereka hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai.

“Sun Rise of Java” itulah sebutan Banyuwangi. Tempat dimana berpadunya pantai, hutan dan pegunungan yang memberi warna dan corak di masing-masing wilayah.

Banyuwangi merupakan “melting pot” dari tiga budaya di Pulau Jawa: Osing, Madura dan Jawa. Tradisi dari tiga kelompok yang berbeda ini bisa hidup berdampingan dan tahan uji terhadap berbagai tantangan perubahan menuju modernisasi.

Dengan niat yang tulus dan semangat untuk berbagi, semoga Buku Foto #iniNegriku ini akan membuka mata bahwa Indonesia itu luar biasa dan menyadarkan nurani bahwa kita ditakdirkan untuk menjaga Nusantara.

 

pras

Prasetyo Utomo, lahir di Blora, Jawa Tengah. Mengawali karir sebagai pewarta foto di Kantor berita Antara pada tahun 2006 hingga sekarang.

Instagram: @prast_utomo Twitter: @prastutomo

 

 

Detail Buku

Ukuran                 : 20×28 (40×28)

Bahan                          

Soft Cover            : Old Mill White

Hard Cover           : Board 2,5mm + Bookmaster

Content                : KSK

Tebal                   : 180 halaman (Content 176 pages)

ISBD                    : 987-602-6814-19-7

 

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

TAPESTRI KEMERDEKAAN: Rajutan Visual Untuk Masa Depan

Ada sebuah foto yang kemungkinan besar diambil oleh Frans Mendur dari IPPHOS kira-kira pada bulan …

Leave a Reply