Home / Article / Getir yang Bersejarah

Getir yang Bersejarah

JON AND ALEX, karya Mads Nissen, pemenang World Press Photo of the Year dan pemenang pertama Contemporary Issues,  moment keintiman pasangan homoseksual Jon dan Alex di St. Petersburg, Rusia.
JON AND ALEX, karya Mads Nissen, pemenang World Press Photo of the Year 2015

Oleh: Sumaryanto Bronto

TATAPAN mata pria itu kontras dengan tubuhnya. Sementara tulang-tulang iganya yang bertonjolan dan perutnya yang cekung menunjukkan daya hidup yang makin lemah, sorot matanya adalah pemberontakan. Dari mata yang melolot, bahkan seperti menyalak itu seolah terdengar segala jerit keinginan hidup.
Ini adalah tatapan mata seorang penderita Ebola di sebuah tempat karantina di Republik Sierra Leonne. Ia tertangkap oleh dua petugas medis saat hendak mencoba kabur. Mungkin juga tatapan itu bukan semangat yang masih menyala. Bisa jadi hanya sorot ketakutan, keputusasaan atau ratusan kemungkinan lain yang bisa muncul sebelum kematian yang menjemput pria malang itu 12 jam kemudian.
Segala imajinasi inilah yang jadi kekuatan sebuah foto. Seperti yang sudah dikatakan sejak lama, Foto berbicara ribuan kali lebih banyak dari kata. Ia menjadi teropong bagi yang tak mampu melihat jauh. Maka sekali lagi lewat ajang, World Press Photo, kekuatan itu kukuh. Zaman telah berganti, begitu pula sosok-sosok yang berada di balik kamera. Namun di belahan dunia mana pun, selalu ada foto yang menggetarkan kemanusiaan.

Para pemenang kompetisi World Press Photo tahun ini telah diumumkan. Lebih dari 97 ribu foto dari 131 negara dikirimkan selama tahun 2014. Namun fakta yang cukup mengejutkan adalah bahwa 20% dari semua foto yang menembus final harus diskualifikasi karena foto telah melalui proses edit dan perbaikan dari file aslinya. Jenis pelanggaran terbesar adalah menghilangkan detail kecil dari foto asli agar foto tampak lebih “bersih”. Pelanggaran lain yang juga sering dilakukan adalah dengan mengubah warna asli secara berlebihan. “Kedua jenis retouch ini menghancurkan integritas gambar, jadi harus ditolak.” ucap direktur pelaksana World Press Photo, Lars Boering.

Tahun ini foto terbaik atau photo of the year dimenangkan oleh Mads Nissen, fotografer asal Denmark yang bekerja untuk harian Denmark Politiken dan mewakili Panos Pictures. Foto pasangan homoseksual Jon dan Alex di St. Petersburg, Rusia, membuat juri yang terdiri dari 17 fotografer dan pelaku industri fotografi kelas dunia menjatuhkan pilihannya. Ketua dewan juri Michele McNally mengatakan, “Saat ini merupakan masa bersejarah untuk foto ini, foto pemenang harus memiliki estetika, memiliki dampak, dan memiliki potensi untuk menjadi gambar yang ikonik. Foto ini kuat secara estetis, dan memiliki nilai kemanusiaan. Sementara Massimo Sestini fotografer asal Italia menyabet juara dua kategori General News Single, foto yang diambil dari udara yang memperlihatkan sebuah perahu yang penuh sesak dijejali pengungsi dan terdampar 32 km utara Libya. Pada akhirnya para pengungsi ilegal tersebut berhasil diselamatkan pasukan penjaga pantai.

Pada kategori General News Stories, Pete Muller, fotografer AS dari The Washington Post menjadi juara pertama. Foto Pete adalah foto sang penderita ebola tadi. Pada kategori General news Single, Fotografer untuk European Pressphoto Agency, Sergei Ilnitsky, Rusia, memenangkan Penghargaan Pertama untuk fotonya yang menunjukkan meja dapur setelah serangan mortir di pusat kota Donetsk, Ukraina. Di kategori Sports Singles, foto karya fotografer Tiongkok bernama Bao Tailiang, yang bekerja sebagai fotojurnalis untuk harian Chengdu Economic Daily, berhasil menangkap ekspresi pandangan penuh rasa kecewa dari bintang sepak bola asal Argentina Lionel Messi yang menatap piala dunia seusai menerima medali runner-up pada final Piala Dunia 2014 di Brasil. Fotogafer Tiongkok lainnya memenangi penghargaan pertama kategori Nature, adalah Yongzhi Chu, Yongzhi memotret Seekor monyet yang ketakutan karena diancam oleh majikannya. Monyet itu bersandar ke dinding dengan leher yang terborgol ke sepeda mainannya. Si majikan datang sambil membawa cambuk besar.

Tahun ini Indonesia meloloskan 2 foto diajang bergensi ini, meskipun bukan karya fotografer Indonesia namun kisah-kisah dari negara ini patut diperhitungkan, adalah seorang fotografer Italia, Fulvio Bugani yang mengabadikan komunitas pesantren transgender di Yogakarta, foto tersebut memenangi juara 3 pada kategori Contemporary Issues, foto lainnya yang memenangkan juara 3 pada kategori singles , diabadikan oleh fotografer Jerman, Sandra Hoyn yang memotret Angelo, seekor orangutan yang menunggu perawatan di Sumatran Orangutan Conservation Program Center, Sumatera Utara.

 

Sumaryanto Bronto

Sumaryanto Bronto, pewarta foto yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Dia memulai karirnya dalam fotografi sebagai kontributor fotografer untuk Asociated Press. Pada tahun 2007 mengikuti workshop WPPH-World Press Photo dan saat ia bekerja untuk surat kabar harian Media Indonesia sebagai salah satu photo editor dan fotografer untuk Kick Andy show. Twitter: @brontoo, Instagram: @bronto

 

 

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Pencak Dor, Tarung Bebas ala Santri

Sebuah adegan pertarungan yang liar dan tanpa teknik terlihat diatas sebuah panggung bambu berukuran 4×8 …

Leave a Reply