Home / Book / Takdir yang Belum Selesai

Takdir yang Belum Selesai

DSC_0447

“Pekerjaan tidak punya nurani, ingatan, atau moral. Manusialah yang memilikinya, atau setidaknya sebagian dari mereka, kadang-kadang,” kata Ferdinand Protzman, penulis esai budaya yang banyak mengisi terbitan masyhur di Amerika. Bagaimana ia menyebut pekerjaan, rasanya pantas disematkan pada pekerjaan joki anak dalam buku foto The Riders of Destiny karya Romi Perbawa.

Ada percikan emosi yang dalam melihat bocah tanpa alas kaki dengan berpenutup muka melecut kuda berotot yang liat di sampul muka buku tersebut. Meski sebo terlihat sangar, namun ia tak bisa menyembunyikan kerapuhan jiwa di dalamnya.

Foto muka itu adalah rangkuman cerita yang menggambarkan kegetiran anak-anak yang bekerja sebagai joki dalam pacoa jara—sebutan pacuan kuda di Nusa Tenggara Barat (NTB). Imaji yang sama menghenyak seperti dalam Child Labor jepretan Steve McCurry atas anak-anak pekerja kasar di Bangladesh.

Tradisi telah melahirkan pekerjaan. Tradisi menjadi alasan kenapa anak-anak dalam buku ini bergelut dengan nasib, sementara anak-anak kaum berpunya di tempat lain menghabiskan waktu hanya untuk sekolah dan bermain.

Di buku ini Romi menyajikan banyak realita yang luput dari lensa-lensa juru foto yang sempat singgah ke NTB. Realita kehidupan para joki anak yang tak hanya sebagai pemenang atau sebagai yang kalah di arena pacuan kuda. Romi yang bukanlah seorang jurnalis, malah justru mewartakan banyak hal secara jujur. Yang rupanya di rentang waktu empat tahun total waktu pemotretan untuk buku ini, foto di tahun pertama masih terasa begitu aktual.

Sebagai kekurangan hanya minimnya narasi. Misalnya kisah tentang foto orangtua yang menunjukkan potret joki, fakta bahwa si orangtua adalah ia yang buah hatinya terenggut maut di pacuan kuda hanya bisa diketahui pembaca lewat nukilan pengantar Oscar Motuloh, yang sekaligus kurator bagi buku ini.

Al Jazeera, pada reportasenya memuat kritik pada praktik judi yang membahayakan joki anak ini, yang justru berlangsung di kawasan Muslim. Di buku The Riders of Destiny, Romi dengan jeli membekukan momen ketika seorang pria bersurban mengusap (atau mungkin menenangkan) joki anak yang masih memegang cambuk dan terlihat ringkih, di antara hiruk pikuk arena. Dorothea Lange, fotografer yang memotret krisis di Amerika tahun 30-an berkata, “Kita bisa berbicara lebih dari subjek kita—kita bisa bicara untuk mereka.”

Simak juga foto penyandingan joki anak ketika berangkat ke sekolah dan ketika ia berjalan sendirian lengkap dengan atribut seorang pemacu jara. Apa perbuatan yang benar? maka jawab para pemikir Utilitarian klasik adalah apa-apa yang menghasilkan yang paling baik. Lalu apakah yang baik itu? jawabannya satu, dan hanya satu, yaitu kesenangan. Maka dalam konteks pacoa jara ini, anak-anak adalah objek nirlogika para orang dewasa. Alih-alih demi keuntungan berat badan bocah yang meningkatkan laju kuda, anak-anak ini dibiarkan bergelayut dalam intai pembinasa.

Dari sisi layout, buku ini ditangani oleh Andi Ari Setiadi, desainer yang melahirkan banyak buku-buku foto penting di Tanah Air. Tata letak di sini membuat tuturan gambar-gambar terasa begitu mutakhir. Misalnya ia yang membuat rangkaian potret joki anak dalam satu rangkaian kertas.

Sebagian materi buku ini telah dimuat di TIME, Sunday Telegraph, De Standaar, Kompas, dan lainnya. Bisa dibilang inilah buku pertama Indonesia yang fokus di satu isu kehidupan anak-anak. Ia serupa esai visual panjang berisi 90 foto hitam-putih yang bisa menjadi kajian antropologi dan disiplin ilmu sosial.

Di bagian akhir buku, foto joki anak sedang tertidur, lalu di sampul dalam buku ditutup dengan sebuah foto lukisan pacuan kuda. Seolah misi melecut dan melaju di atas punggung kuda telah juga merampas alam bawah sadar mereka: alam mimpi. Mungkin juga Romi ingin kita, sebagai pembaca, turut membagi mimpi dan harapan pada mereka, Para Penunggang Takdir. (Taufan Wijaya***)

 

Judul Buku: THE RIDERS OF DESTINY

Fotografer: Romi Perbawa

Penerbit: Galeri Foto Jurnalistik Antara

Tahun: 2014

ISBN: 978-602-9342-16-1

 

DSC_0445 DSC_0443DSC_0444 DSC_0448

 

**** Taufan Wijaya adalah penulis dan fotografer lepas, yang sedang belajar di Ateneo de Manila University pada program MA in Journalism. Ia membuat buku foto “Dekat Perempuan” yang berisi kisah kanker perempuan di Indonesia dan menulis buku “Foto Jurnalistik” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

 

Pemesanan buku THE RIDERS OF DESTINY : theridersofdestiny@gmail.com

 

About 1000kata

Avatar
1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Before Too Late, Langkah Kecil Berarti Untuk Hutan Indonesia

Dalam dunia fotografi, tema-tema lingkungan masih menyisakan banyak hal yang bisa dieksplorasi. Tapi ternyata fotografer …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.