Home / Book / NESW, Merayakan Kesederhanaan

NESW, Merayakan Kesederhanaan

Ada sebuah keasyikan baru dan suasana berbeda yang muncul saat memotret dengan kamera ponsel. Ringan, riang dan tanpa beban, serupa saat pertama kami berkenalan dengan fotografi.

Itulah awalnya. Kami : Dita Alangkara, Ahmad Zamroni, Yuniadhi Agung dan Mast Irham, fotojurnalis yang biasa menggunakan kamera DLSR dalam tugas keseharian kami, seperti kebanyakan orang di era ponsel berkamera, juga mengabadikan momen dengan kamera ponsel.

Teknologi yang berkembang pesat, telah mengubah benda berukuran kecil sekaligus kompak yang awalnya hanya merupakan alat komunikasi tersebut, tidak lagi sekadar alat untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Namun juga mampu menjadi media untuk merekam foto dengan ukuran dan kualitas yang nyaris sempurna.

Memotret dengan kamera ponsel, bagi kami para fotojurnalis, ibarat lari dari rutinitas yang membelenggu. Membuat kami yang biasa dituntut menghasilkan karya dengan ‘standar kesempurnaan’ dari sebuah kamera DLSR, seolah terbebas dari beban tersebut.

Karena justru ketidaksempurnaan itu menjadi sebuah pembebasan, sekaligus kejuatan, akan sebuah cara melihat yang berbeda. Dengan kamera ponsel, kami tidak perlu cemas apabila foto yang dihasilkan tidak memiliki kedalaman ruang, grainy, lighting yang bocor dan warna yang tak selarasa. Sometime, what we learn is that beauty and imperfection go together wonderfully.

Keterbatasan yang ada di dalam kamera ponsel pun menjadi tantangan baru yang harus dikompromikan sebelum memencet tombol klik di kamera ponsel. Karena sebuah karya yang berbicara, apapun alat yang digunakan, adalah sebuah cara bagi seorang fotografer untuk berkomunikasi.

Screen Shot 2014-03-11 at 3.43.19 PM

 

Foto-foto yang kami tampilkan dalam NESW ini sebagian besar merupakan foto-foto street fotografi yang kami ambil di sela penugasan sebagai fotojurnalis. Ada yang di dalam negeri, ada pula yang di luar negeri.

Judul North, East, South, West (NESW) kami pilih untuk mewakili kami yang sebagai fotojurnalis memiliki gaya berbeda dalam berkomunikasi melalui foto-foto kami. Ibarat empat penjuru mata angin yang memberi petunjuk dan arah bagi siapapun yang membutuhkan.

Bukan untuk membeda-bedakan, namun justru untuk saling melengkapi, sekaligus menunjukkan bahwa bahwa setiap karya foto adalah karya personal, yang dapat dilahirkan setiap saat oleh siapapun juga. Sebebas-bebasnya.

Melalui foto-foto ini kami juga ingin berbagi, bahwa setiap obyek dapat menjadi sebuah foto yang tetap berbicara meski hanya ditangkap dengan kamera ponsel. Itu berarti, setiap orang dengan kamera ponselnya, juga mampu menghasilkan karya-karya yang tak kalah berdaya, unik, sekaligus menarik.

Selamat menikmati NESW. Dan mari merayakan fotografi dengan riang gembira, tanpa beban.

 

Pesan Buku NESW

NESW

“Dari buku NESW ini, kita bisa melihat bahwa semua pemakai smartphone bisa jadi fotografer luar biasa.” (Beawiharta, fotografer Reuters)

“Buku NESW membawa kita melihat cara berfikir yang asli dan spontan dari keempat fotografernya.” (Arbain Rambey, fotografer senior Kompas)

“Photographs like these, using an everyday tool like the smartphone, shows an honesty of vision and should be an inspiration to anyone who appreciates the poetry of form and human interaction.” (Charles Dharapak, fotografer Associated Press, Washington D.C.)

Fotografi adalah cermin kemanusiaan.
Dia menjadi ada bagi setiap aliran anak sungai visual yang meninggalkan arus muara yang berawal dari samudra. Samudra fotografi. Hingga di ufuk nun jauh di infiniti di sana. Dimana seolah-olah tak ada lagi batas yang membelenggu kita. Kita para fotografer dengan bangga mempersembahkan imaji yang kita klik dengan segenap jiwa. Sebentuk karya untuk hati seantero bumi. Kita para fotografer dokumenter-jurnalistik membiaskan pesan-pesan melalui medium dan kekuatan fotografi sebagai infrastruktur imaji menuju pesannya. Apapun kameranya, atmosfir tak pernah berubah. Gaya kita tetap tampil dalam mode dan menu pada kamera smartphone kita. Karena fotografi jurnalistik telah terlanjur sayang pada gaya yang dianut para pewarta foto dan dokumeter fotografer, maka cermin kehidupan yang menjadi simbolnya tak tercerabutkan dari akar kita. Kita akan selalu terperangkap oleh jeruji visual yang akan membelenggu kita dalam bingkai-bingkai pengetahauan dan profesi yang kadung kita abdi. Perihal tersebutlah yang tampaknya lebih fundamental ketimbang pemilihan penggunaan kamera saku ataupun ponsel pintar tipe paling kampungan sekalipun.
Penjara visual ada dalam sanubari kita, dia mengendap sedalam jantung hati kita. Kita sesungguhnya, tak pernah merdeka. Tak akan pernah.
(Oscar Motuloh, Galeri Foto Jurnalistik Antara)

NESW adalah kesederhanaan yang elok. Ego yang berbagi dan menanggung kebersamaan tampa kehilangan jati diri; sekaligus rumit karena karakter dan narasi yang berbeda-beda itu. Tantangan yang menggairahkan di dalam kerja editing…(Ahmad ‘Deny’ Salman)

JADI APA PENDAPAT TEMAN-TEMAN SEMUA SETELAH MELIHAT BUKU NESW ???

KOMENTAR DARI TEMAN-TEMAN SANGAT KAMI HARAPKAN.

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

VR 360°, Cara Baru dalam Bercerita

Sekitar satu dekade yang lalu, saya berkesempatan untuk berkenalan dengan Virtual Reality 360° (VR 360°) …

8 comments

  1. recomended buat pemanfaatan kamera smartphone. daripada hanya untuk selfie mending dipakai merekam kejadian disekeliling kita. btw dimana bisa didapatkan bukunya yak?

  2. Keren om.
    Ini bukunya ada dijual d gramedia?

  3. Wow, keren om.
    Ini bukunya ada dijual d gramedia kh?

  4. Ricky Yudhistira

    Hari-hari ini ketika hampir semua orang memotret (thanks to smartphone) dan membagikannya dengan mudah (thanks to social media), terbit buku berjudul North East South West (NESW) – buku berisi foto-foto yang diambil dengan smartphone oleh empat fotojurnalis pengusung DSLR. Mereka adalah Dita Alangkara, Ahmad Zamroni, Yuniadhi Agung dan Mast Irham. Foto-foto yang dibukukan selama ini telah mereka bagikan di akun Instagram.

    Apa yang bisa diharapkan dari buku ini? Foto-foto berkualitas editorial? Foto-foto yang tajam secara teknis dan cerita? Foto-foto yang memenuhi kriteria newsworthy dan news judgement? Apa mereka mau menyampaikan bahwa fotojurnalistik bisa dihasilkan dengan smartphone? Apa kaitannya NESW dengan news?

    Membuka lembar demi lembar halaman, saya menemukan mereka sedang bermain-main. Homo ludens. Mungkin beberapa foto bisa saja dijadikan foto editorial ketika dilengkapi dengan teks pendukung. Tapi tidak ada pretensi editorial di sini. Pertanyaan-pertanyaan tadi luruh dengan sendirinya. Tidak relevan. Adalah naif – kalau tidak mau dikatakan absurd – membayangkan atau mengharapkan mereka sebagai kertas atau gelas kosong saat mereka membuat karya non-jurnalistik. Mereka tetap fotografer yang telah melatih dan mengembangkan diri hingga detik ini. Kerja jurnalistik mempunyai prinsip dasarnya sendiri. Demikian pula memotret dengan baik, lepas untuk apa foto itu dihasilkan.

    Dengan smartphone dan didukung social media, boleh saja semua orang memotret. Tapi belum tentu semua hasilnya baik. Kebetulan-kebetulan pasti ada. Tapi bagi fotografer terlatih, lebih dari itu. Dahaga estetika seakan-akan sudah mendarah-daging. Proses rumit menerjemahkan keindahan dalam karya visual menjadi hal yang natural ketika ia menekan tombol shutter. Untuk apa? Membuat foto indah. Sesederhana itu.

    Dengan kepraktisannya, mobile photography mampu menyiasati dahaga estika kapan saja dan di mana saja. Tengok saja hamparan foto yang terserak di dunia maya. Tidak jarang kita kewalahan sehingga foto-foto itu – termasuk yang indah – lewat begitu saja. Inilah pentingnya buku ini. Bagi saya, NESW adalah kumpulan foto-foto pilihan yang dibagikan fotografer terlatih yang kebetulan saja berprofesi di ranah jurnalistik. Kadang kita cenderung melihat siapa yang memotret daripada fotonya sendiri. Ketika kita terperangkap dalam cara pandang semacam itu, jangan-jangan kita telah melewatkan perayaan kesederhanaan.

  5. Pertama, saya berterima kasih kepada kalian berempat yang mau mengambil inisiatif untuk menerbitkan buku ini. Dengan lahirnya buku yang dibuat oleh empat fotografer dengan kredibilitas karya yang tak perlu diragukan lagi.

    Kedua, bagi saya pribadi ponsel adalah pilihan alternatif untuk tetap mempertahankan stimulus berkarya kreatif secara fotografis. Di manapun dan kapanpun walaupun tidak sedang membawa kamera digital, ponsel memungkinkan saya tetap bisa menyalurkan dahaga kreativitas fotografi. Fotografi bukan lagi tentang fotografi itu sendiri, tapi tentang telling the stories. Di sini saya melihat bahwa buku ini cukup berhasil menyampaikan keseharian 4 fotografernya di luar zona editorial yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Salut dan harapannya buku ini jadi sumber inspirasi bagi saya dan fotografer lainnya untuk berani memproduksi karya fotografi melalui sebuah buku.

Leave a Reply