Home / Featured / Tjandra, Mantan Atlet yang Jadi Fotografer

Tjandra, Mantan Atlet yang Jadi Fotografer

Tjandra, Mantan Atlet yang jadi Fotografer

Tjandra Moh Amin atau lebih akrab dipanggil dengan nama Tjandra, tertarik pada fotografi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karya fotografer yang lahir pada 13 april 1969 ini dikenal luas sejak bergabung dengan tabloid BOLA tahun 1993.

Tekatnya yang kuat untuk mengembangkan bakat di bidang fotografi olahraga secara otodidak, serta sosoknya yang supel dan humoris, membuat foto-fotonya tampil kuat dengan pendekatan personal terhadap subyek fotonya.

Untuk mengenalnya lebih jauh, Seribukata mengobrol santai diselingi canda tawa dengan Tjandra, di toko aksesoris sepeda miliknya di bilangan Manggarai. Berikut rangkumannya.

photo by Mast Irham

Apa yang membuat anda tertarik pada fotografi?

Saya mulai tertarik pada fotografi ketika saya bergabung dengan kelompok teater di sekolah. Saat itu saya dan teman-teman tampil dalam pertunjukan teater di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seorang fotografer mengabadikan pertunjukan itu dan hasilnya sangat bagus, membuat saya terkagum-kagum. Sejak saat itu keinginan untuk belajar fotografi pun timbul.

Ceritakan proses anda belajar fotografi.

Setelah lulus SMP, saya mulai belajar teknik fotografi secara otodidak menggunakan kamera Ricoh KR5 yang saya pinjam dari seorang teman. Saya banyak membaca buku fotografi dan mempraktekkannya sedikit demi sedikit. Hasilnya kemudian saya konsultasikan dengan teman dan beberapa fotografer yang saya kenal.

Di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saya aktif di olahraga taekwondo hingga saya dipanggil untuk bergabung dengan pelatnas Sea Games Singapura 1993 selama dua tahun. Walaupun akhirnya tidak jadi berangkat mengikuti Sea Games, kecintaan saya pada olahraga mulai terbangun.

Ketertarikan pada fotografi mulai dapat tersalurkan setelah saya berhasil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari bonus yang saya dapat selama pelatnas. Sebuah kamera Olympus OM1M ditambah lensa 24 mm, menjadi modal saya untuk belajar dan berkarya.

Tahun 1993 saya mendapat kesempatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Tabloid BOLA. Di sana saya mulai belajar memotret olahraga di bawah pengawasan Dody M Gurning, senior saya di Bola. Dody-lah yang memotivasi saya untuk terus menggeluti fotografi olahraga hingga akhirnya saya bergabung penuh di Tabloid BOLA pada 1996.

Mengapa tertarik dengan foto olahraga?

Yang pasti karena saya suka olahraga. Dan foto olahraga, menurut saya, menuntut teknis yang spesifik sehingga cukup menantang bagi saya. Olahraga juga sangat berhubungan dengan momen yang berlangsung cepat dan belum tentu berulang sehingga menambah tingkat kesulitannya.

Peristiwa olahraga apa yang paling berkesan buat anda?

Event sepakbola piala Asia di Uni Emirat Arab 1997 adalah peristiwa yang sangat berkesan buat saya. Saat itu tim nasional Indonesia bertanding melawan tim nasional Kuwait.

Walaupun hasilnya draw, namun saat itu saya merasa sangat bangga menjadi orang Indonesia karena tim nasional kita bermain bagus.

Salah seorang pemain kita, Widodo C Putra, berhasil mencetak gol lewat tendangan salto yang sangat indah. Gol itu menjadi perbincangan hangat pecinta sepakbola.

Pada pertandingan yang sama, pemain yang lain, Rony Wabia, juga berhasil mencetak gol lewat tendangan penjuru yang langsung masuk ke gawang Kuwait. Saya berhasil mendapatkan foto tendangan Widodo yang spektakuler dan menjadi foto headline di BOLA.

Tidak hanya senang karena berhasil mendapatkan foto yang cukup bersejarah, saya juga merasa bangga sebagai orang Indonesia.

Siapa fotografer favorit anda?

Fotografer favorit saya adalah Simon Bruty dari sport illustrated. Foto yang dihasilkan Simon, menurut saya sangat ‘kuat’.

Apa pesan anda untuk fotografer muda?

Menyukai olahraga adalah sebuah poin plus dalam fotografi olahraga. Selain membuat fisik kita prima, menguasai cabang olahraga dan mengetahui aturan main sebelum memotret akan membuat foto kita lebih kuat dan maksimal.

Jangan merasa minder dengan alat yang kita pakai. Karena olahrga tidak hanya permainan utamanya saja. Foto yang bagus juga bisa kita dapat di luar permainan utamanya. Banyak sisi lain olahraga yang juga menarik.

Perbanyak referensi foto dengan mempelajari karya foto orang lain supaya kita bisa mendapatkan konsep untuk kita pakai di kemudian hari.

Kejuaraan F2 di Sentul.
Kejuaraan Asia loncat indah di Senayan, Jakarta.
Sejumlah anak bermain bola di kota lama Malang.
Pertandingan Liga Indonesia Arema Malang melawan PSMS Medan di Malang.
Irfan Bachdim berteriak saat laga semifinal AFF di Jakarta.
Perenang Indonesia Glen Victor pada kejuaraan renang Asia di Jakarta.
Peserta Tour de Indonesia saat melewati Baluran, Banyuwangi.
Balap sepeda dalam Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Samarinda.
Chris John merayakan kemenangannya setelah mengalahkan Derek Gainer.
Pertandingan taekwondo di Asian Games China.
Portrait perenang cacat di Badan Pengurus Olahraga Cacat (BPOC) kota Solo.

About Mast Irham

Mast Irham has been doing photography since he was a student at Communication Study at Sebelas Maret University in Solo, Central Java. Before he finished his undergraduate study, he had joined Antara news agency as a contributing photographer. After graduation, he worked for Media Indonesia newspaper until 2004, when he was chosen as one of the participants of photojournalism workshop organized by World Press Photo and Asia Europe Foundation in Hanoi, Vietnam. He later joined European Pressphoto Agency (EPA) in August 2004. During the more than 10 years of his career, Irham has been covering politics, economy, disaster, and sport events both in Indonesia and abroad. Among his notable experience were covering earthquake and tsunami in Aceh, and Bali bombing. His foreign assignments include Aung San Suu Kyii release in Myanmar, Australian Open tennis tournament in Melbourne, Australia, and earthquake in Nepal, Brazil's World Cup. Irham is now EPA chief photographer for Indonesia.

Check Also

Pameran Foto ‘Mengkambinghitamkan Liyan di Asia Tenggara’ : Tidak Pernah Mudah Menjadi Berbeda.

  Menyambut ulang tahunnya ke-18 yang jatuh pada 8 Desember 2018, Yayasan Tifa bekerja sama …

18 comments

  1. mantab bang, thanks atas pencerahannya……

  2. gunturprimagotama

    SALUT dengan artikel ini. Salut juga kepada sosok Tjandra M. Amin & karya-karyanya. Tjandra salah satu fotografer favorit saya.

  3. top markotop……

  4. hafidznovalsyah

    Babe-nye Potograpi Olahrage Indonesia 🙂 top!

  5. Ncang Amien emang tiada duanya….mantap

  6. Luaarrrrr Biasaaaa…………

  7. Fransiskus Simbolon

    kerennnnnnnnn….mantapsssssssssssssssssssss

  8. Terima kasih artikelnya; jadi bisa lebih "kenal" dengan salah satu fotografer olahraga idola saya di negeri ini. Boleh minta kontak Bung Tjandra?

  9. mantabbb!!!

  10. well done !!!!…sumpahhh tobbb bangettt…..

  11. beberapa kali ketemu mas tjandra… makasih artikel yang bagus ini

  12. my teacher and mentor…tetep semangat bro

  13. nice …. Bravo..!

  14. mantab om bobihh..#mas bea nunggu diprofilkan ya…

  15. Sukses bang mantab…..

  16. bea

    Bravo Candra ….!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.