Home / Featured / Kemal Jufri, Peraih 2nd Prize World Press Photo 2011

Kemal Jufri, Peraih 2nd Prize World Press Photo 2011

Kemal Jufri (tengah) saat meliput pemakaman massal korban erupsi Merapi, 28 Oktober 2010. Photo by Budi Asmarawati

Salah satu fotografer Indonesia, Kemal Jufri, berhasil meraih penghargaan bergengsi World Press Photo 2011 sebagai pemenang ke-2 katagori People in the News Stories. Fotonya yang menampilkan foto seri letusan gunung Merapi secara kuat dan lengkap membawa Kemal menorehkan namanya dalam jajaran fotografer yang karyanya diakui dunia. Sebuah kebanggaan bagi dunia fotojurnalistik Indonesia.

Untuk lebih mengenal sosok dan mengetahui kisah di balik foto-fotonya yang meraih penghargaan WPP, Seribukata sengaja mewawancara Kemal di sela jadwalnya yang padat sekaligus mengucapkan selamat. Semoga menjadi motivasi bagi fotografer Indonesia untuk terus berkarya, Bravo Kemal!

Bagaimana perasaan Anda saat mengetahui bahwa Anda berhasil menyabet penghargaan bergengsi World Press Photo (WPP)?

Saya merasa sangat bahagia dan bersyukur karena mendapat penghargaan dari sebuah organisasi bergengsi seperti WPP. Namun disaat yang sama, saya juga merasa terharu karena kembali teringat korban bencana Merapi yang tewas dengan tragis serta mereka yang kehilangan segalanya dalam bencana tersebut.

Apakah Anda merasa optimistis saat mengirimkan karya Anda ke WPP?

Mengingat begitu banyaknya imaji-imaji kuat yang tampil di media massa internasional, dari beberapa peristiwa penting yang terjadi di berbagai belahan dunia pada tahun 2010 seperti gempa di Haiti, tragedi tumpahan minyak di teluk Meksiko, kerusuhan politik di Bangkok, Thailand dan masih banyak lagi peristiwa penting lainnya, pada awalnya saya tidak begitu yakin bahwa para juri akan memilih peristiwa erupsi Merapi menjadi salah satu pemenang. Namun saya juga sadar bahwa walau secara bobot berita peristiwa Merapi tidak sebesar peristiwa dunia lainnya, dampak visual yang diakibatkan sebuah erupsi gunung berapi akan selalu menjadi sebuah pemandangan yang unik dan menakjubkan sehingga berpotensi untuk menarik perhatian para juri.

Bagaimana proses Anda membuat foto-foto tersebut?

Saat awal erupsi besar Merapi di penghujung bulan Oktober 2010 yang menewaskan sang juru kunci, Mbah Maridjan, walau sangat ingin pergi ke lokasi untuk meliput secara langsung, saya hanya dapat menyaksikan peristiwa tersebut dari layar televisi di rumah. Sejak awal 2009 saya memang sengaja mengurangi aktifitas memotret di luar Jakarta yang tidak merupakan penugasan karena kebetulan kondisi keuangan saya juga sedang tidak terlalu baik akibat beberapa musibah dalam kehidupan pribadi saya yang berdampak pada pengeluaran yang cukup besar.

Namun beberapa hari kemudian saya mendapat telpon dari editor foto majalah berita mingguan German, STERN yang menugaskan saya untuk meliput di Merapi. Saat tiba di Yogyakarta, cuaca yang mendung disertai hujan membuat saya sulit menembus lokasi desa terparah, Kinahrejo yang hampir selalu diselimuti kabut. Pihak keamanan pun tidak mengizinkan saya untuk memasuki wilayah tersebut karena terlalu berbahaya.

Sayapun tidak mau mengambil resiko selain karena letusan Merapi kali ini yang tidak dapat diprediksi, berbeda dari letusan di tahun tahun sebelumnya, serta kondisi merapi yang terselimuti kabut sehingga secara visual saya tidak dapat memantau apabila awan panas menerjang. Saya kemudian memutuskan untuk tidak memaksakan diri memasuki wilayah tersebut dan memilih untuk menunggu cuaca sedikit cerah di hari-hari berikutnya.

Pada hari berikutnya penulis lepas berkebangsaan German untuk majalah STERN tiba di Yogyakarta dan alangkah terkejutnya saya bahwa beliau tidak punya penerjemah ataupun fixer yang mengerti lokasi. Sementara beliau tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali.

Akibatnya waktu yang seharusnya dapat saya pergunakan untuk survei lokasi ataupun memotret habis untuk telpon kanan kiri untuk mencarikan fixer/penerjemah untuk si penulis. Untung sore itu saya bertemu kawan fotografer dari Jakarta, Andry Bey yang membantu saya mencarikan seorang penerjemah dari salah satu relawan di kamp pengungsi walau sang penerjemah dadakan tersebut hanya bisa membantu sore itu.

Sayapun kembali harus telpon kanan kiri. Untungnya kawan fotografer di Yogyakarta, Karolus Naga merekomendasikan salah satu kawannya yang juga fotografer, Gembong Nusantara yang kebetulan bersedia untuk menjadi penerjemah untuk hari- hari berikutnya.

Walau urusan penerjemah sudah teratasi, sang penulis memberitahukan bahwa hampir semua orang yang d wawancarainya harus difoto karena apabila salah satu orang yang ia wawancara ternyata menjadi tokoh penting di dalam artikelnya dan tidak ada fotonya, celakalah saya. Pada akhirnya saya menghabiskan beberapa hari kedepan mengikuti kemana si penulis ingin pergi dan melakukan wawancara sehingga kesempatan untuk memotret hal lainnya hampir tidak ada.

Seringkali saya harus menunggu begitu lama saat ia melakukan wawancara sehingga saya hampir tertidur karena harus menunggu wawancara selesai sebelum giliran saya memotret si subyek. Saya pun tidak dapat pergi terlalu jauh untuk memotret ke lokasi lain karena sang penulis menumpang di kendaraan saya dan akan sangat konyol apabila saya pergi ke lokasi lain hanyauntuk sampai di tujuan lalu harus segera kembali ke lokasi di mana si penulis berada karena mesti memotret subyek wawancara.

Pendeknya saya terjebak dalam situasi yang sangat membuat frustrasi. Tapi kadang itulah realita dalam sebuah penugasan bersama seorang penulis. Tidak semua publikasi mempunyai aturan yang sama mengenai subyek yang di wawancarai dan kadang mereka pun memberikan kebebasan bagifotojurnalis untuk melakukan peliputan secara independen dari si penulis. Namun situasi ideal seperti itu jarang sekali terjadi.

Pada saat hari deadline pengiriman foto di suatu siang menjelang tengah hari di guest house tempat saya menginap, seorang kawan videographer yg berbasis di Yogyakarta, Kasan Kurdi menghubungi ponsel saya dengan suara panik dan menginformasikan bahwa Merapi mengeluarkan awan panas cukup besar. Pada saat itu saya menghadapi dilema, apakah
saya biarkan momen tersebut berlalu karena saya sudah dikejar deadline dimana seharusnya seluruh foto sudah harus diterima foto editor STERNpada pukul 12 siang itu atau mengejar momen tersebut.

Guest house saya berlokasi di Palagan dan walaupun tidak sejauh dari kota Yogyakarta, jarak tempuh dari Merapi masih lumayan jauh dan terlalu banyak rintangan yang menghalangi pandangan ke Merapi. Apabila saya naik mobil ke lokasi yang lebih dekat Merapi maka wedus gembel alias awan panas tersebut kemungkinan sudah tidak lagi terlihat menarik untuk diabadikan.

Sementara pada saat itu saya masih mengenakan kaus dan celana pendek untuk tidur serta sandal hotel yang tipis. Tanpa berpikir lebih panjang langsung saya menyambar kamera dan berlari sekencangnya menuju tempat parkir guest house dan segera tancap gas ke arah Merapi.

Jalan ke arah Merapi saat itu cukup padat dan saya khawatir sebelum saya sampai pada lokasi strategis untuk memotret, awan yang mulai bergerak akan segera menyelimuti Merapi. Baru sekitar beberapa menit perjalanan, tepatnya di Ngaglik, saya melihat areal yang agak sedikit terbuka sehingga memberi pandangan yang lumayan jelas ke arah Merapi.

Segera saya putuskan untuk berhenti dan memotret dari lokasi tersebut menggunakan lensa tele 70-200 mm yang sangat jarang saya pergunakan.Hasil foto dari perburuan tersebut saya jadikan foto pembuka foto story Merapi saya yang mendapat penghargaan dari WPP.

Setelah pontang-panting mengejar ‘wedhus gembel’ dan juga deadline editing dan pengiriman foto, saya berhasil mengirimkan seluruh fotovia internet ke majalah tersebut tidak terlalu jauh dari waktudeadline. Namun sayangnya beberapa jam kemudian saya mendapat kabarbahwa story mengenai Merapi terpaksa tidak jadi naik cetak karena ada peristiwa lain yang lebih penting untuk pembaca di Eropa yang harus mengambil halaman yang telah dipersiapkan untuk story Merapi tersebut.

Tentu saya kecewa, tapi itu juga merupakan realita bekerja untuk sebuah majalah. Bukan sesuatu yang aneh apabila sebuah majalah menugaskan penulis dan fotografer untuk sebuah story dan kemudiantidak menerbitkannya karena satu dan lain hal.

Setelah assignment dengan majalah STERN selesai dan karena merasatidak puas dengan apa yang telah saya dapatkan selama penugasan, walau dana sudah sangat menipis saya putuskan untuk memperpanjang liputan saya beberapa hari lagi di Yogyakarta dengan biaya sendiri. Keputusan yang tepat karena beberapa hari kemudian letusan terbesar terjadi
menghancurkan banyak pemukiman sejauh 10 km dari puncak Merapi.

Malam sebelum letusan yang menghancurkan desa-desa di daerah Cangkringan, saya bersama fotografer Gembong Nusantara berencana memotret lava pijar dari daerah Klaten. Namun saat sampai di tujuan situasi tidak memungkinkan karena terjadi getaran dan suara letusan yang cukup dahsyat dalam waktu yang cukup lama. Hal ini membuat para pengungsi panik, yang berujung pada evakuasi massal ke lokasi pengungsian yang lebih jauh dari puncak Merapi.

Setelah Memotret suasana evakuasi, kami kembali turun ke kota Yogyakarta yang saat itu telah dihujani abu vulkanik. Selama beberapa waktu kami memotret suasana di sebuah perempatan jalan di Yogyakarta.

Kami melihat beberapa ambulans berkali kali melewati perempatan jalan tersebut menuju Rumah Sakit. Saat itu saya berpikir, saya harus menemukan lokasi yang terkena luncuran material vulkanik panas yang menyebabkan begitu banyak korban. Namun karena waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, kami memutuskan untuk melihat ke Rumah Sakit untuk mengambil gambar korban di sana.

Sampai di rumah sakit puluhan wartawan dari berbagai media telah berkumpul di sana menunggu korban yang tiba dengan ambulans. Setelah beberapa kali mencoba memotret korban yang diturunkan dari ambulans berdesakan bersama puluhan wartawan foto dan televisi yang lain, saya mulai sadar tidak akan mendapat gambar yang kuat dari situasi tersebut. Kamipun meninggalkan rumah sakit.

Selain itu ada isu bahwa pemukiman yang berjarak dalam radius 20 km telah diperintahkan untuk dikosongkan. Sementara penginapan saya berada pada radius kurang dari 20 km dari puncak Merapi, sehingga sayapun mengkhawatirkan peralatan elektronik saya seperti laptop, dan barang barang lainnya yang saya tinggalkan di guest house tanpa ada staff yang mengawasi.

Setelah mengamankan barang barang dari guest house, sekitar jam 5 pagi kami meluncur menuju Cangkringan dan mencoba mencari informasi letak desa yang paling parah kondisinya. Setelah berkeliling beberapa waktu akhirnya kami menemukan desa tersebut.

Namun jalan masuk menuju desa diblokir dan dijaga oleh warga. Mereka tidak memperbolehkan kami masuk karena kondisinya tidak memungkinkan. “Jangan coba-coba masuk. Tim SAR pun belum bisa masuk”, celetuk seorang warga.

Tak lama kemudian beberapa dari mereka berteriak, “Lari,lari,.. wedhus gembel!” Pada saat itu sopir mobil rental sayapun panik dan langsung tancap gas menjauh dari lokasi.

Kami masih berada di mobil, saat saya lihat mereka berhenti berlar, saya minta supir
berhenti dan balik arah ke tempat semula. Tentu saja permintaan tersebut ditolak mentah mentah. Sopir terus melaju hingga kami sampai pada sebuah lokasi pengungsian. Bahkansetelah itu dia mengatakan mau kembali ke dalam kota Yogya saja dan
tidak mau lagi berurusan dengan kami. “Saya nggak mau Pak!”, seru sopir itu.

Saya langsung putar otak. Saya coba menenangkan sopir dan saya katakan padnya, “ kamu tunggu di sini saja. Tidak usah ikut saya kembali ke tempat tadi”. Namun tetap saja saya tidak mungkin jalan kaki kembali ketempat semula karena jaraknya lumayan jauh.

Tak lama saya melihat ada sebuah truk militer dari kejauhan dengan kecepatan tinggi melaju ke arah di mana kami berdiri dan lalu berhenti secara mendadak. Beberapa orang anggota militer menurunkan beberapa pengungsi dengan wajah ketakutan dari truk tersebut .

Saya menduga, ini pasti warga dari desa yang dekat dengan desa yang terkena luncuran awan panas. Saat saya melihat truk tersebut berbalik arah dan bersiap siap untuk melaju, firasat saya mengatakan bahwa truk beserta anggota militer di dalamnya ini akan kembali ke desa yangterkena luncuran awan panas. Sayapun langsung memanjat naik ke atas
truk tersebut yang lalu diikuti oleh Gembong. Para anggota militer yang saat itu terlihat cukup tegang tidak menggubris kami dan membiarkan kami menumpang truk tersebut.
Tak lama kemudian kami tiba di desa Argumulyo, Cangkringan, salah satu desa terparah yang terkena luncuran awan panas. Setelah itu insting saya yang bekerja.

Apakah Anda merasa terancam saat membuat foto-foto tersebut? Bagaimana Anda mengatasi berbagai kendala saat peliputan?

Tentu saya merasa sangat terancam. Namun saya berpikir para aggota militer dan tim SAR yang bekerja membawa handytalky yang dapat digunakan untuk memantau frekuensi luncuran awan panas. Sehingga kalaupun ada awan panas yang kembali menerjang, mereka akan lebih dulu mengetahuinya sehingga dapat lari lebih awal, menjauh ke tempat yang lebih aman.

Tentu saja hal itu tidak menjamin masih ada cukup waktu untuk lari. Artinya, bisa saja walaupun frekuensi terdeteksi namun belum sempat kami lari tapi awan panas sudah lebih dulu menerjang.

Yang dapat saya lakukan hanyalah mengambil langkah-langkah yang dapat meminimalisir resiko berdasarkan pengalaman saya meliput di daerah daerah berbahaya lainnya.

Di antara foto-foto anda, ada foto yg memperlihatkan sesosok korban awan panas yang tergeletak. Bagaimana perasaan anda saat melihat kejadian tersebut?

Terus terang saya sangat terguncang. Namun saya tidak bisa berlama- lama dalam kondisi seperti itu karena segala sesuatunya bergerak begitu cepat sehingga saya harus bisa mengendalikan emosi agar dapat mendokumentasikan peristiwa tersebut dengan sebaik baiknya.

Apa pendapat pribadi anda soal WPP?

Saya rasa lembaga WPP telah memberikan banyak sekali kontribusi dalam dunia fotojurnalistik secara global. Kritik saya terhadap organisasi tersebut adalah kurang banyaknya keterlibatan individu- individu non-western dalam tim inti organisasi tersebut walau memang pada dasarnya organisasi tersebut terletak di dunia barat.

Namun untuk mengklaim diri sebagai organisasi dunia, keterlibatan individu- individu dari negara negara non-western pun perlu lebih ditingkatkan. Termasuk di dalam tim juri inti sehingga menjadi lebih seimbang karena negara negara non-western menjadi lebih terwakili.

Profil Singkat Kemal Jufri

Kemal Jufri merintis karir fotojurnalistiknya lebih dari satu dekade yang lalu sebagai fotografer kontrak untuk kantor berita Prancis AFP biro Jakarta pada tahun 1996. Pada akhir tahun 1998 Kemal meninggalkan AFP untuk bekerja sebagai fotografer kontributor majalah Asiaweek hingga majalah tersebut gulung tikar pada tahun 2001.

Sejak itu, sebagai fotografer freelance, Kemal bekerja dalam penugasan secara rutin meliput di kawasan Asia untuk beberapa publikasi ternama di dunia seperti majalah TIME, Newsweek, The New York Times, STERN, Der Spiegel, Business Week International dan masih banyak lagi.

Ia juga telah berpartisipasi dalam berbagai pameran foto di Indonesia dan di luar negri.

Beberapa penghargaan yang telah ia terima antara lain :

1998 – Newsweek magazine Best Picture of the Year
2000 – Award of Excellence in General News category from POYi (Picture
of the Year International) USA
2000 – US News & World Report Magazine Best Picture of the Year
2000 – Tempo Magazine’s Indonesian Artist of the Millenium
2001 – Pantau Magazine Most Outstanding Young Indonesian Journalist Award
2004 – World Press Photo Internship grant with Corbis Photo agency in Paris
2005 – 21st American Photography Annual Award
2005 – Time magazine Best Photo of the Year
2006 – Silver Award for Best in News Photography from IFRA (The
world’s leading association for newspaper and media publishing)
2007 – 2nd Place in Science & Natural History category from POYi
(Picture of the Year International) USA
2007 – World Press Photo Millennium Development Goals Book Project Grant
2008 – Exhibition winner PX3 (Prix De La Photographie Paris) Human
Condition Photography contest.
2008 – Honorable Mention in the National Geographic ‘s All Roads
Photography awards program.
2008 – United Nations- FAO Grant to document the Human Faces of Avian
Influenza in Indonesia.
2009 – 3rd Place in Local Personality Portrait category from NPPA BOP
(Best Of PhotoJournalism) contest in USA
2009 – PDN Photo Annual Award in the Photojournalism & Documentary
Photography category

About 1000kata

1000kata adalah portal yang dikelola oleh 10 fotografer Indonesia, sebagai media alternatif untuk menampilkan karya, cerita, ide, opini, gagasan serta yang lainnya berkaitan dengan dunia fotografi. Mari berbagi.

Check Also

Pameran Foto ‘Mengkambinghitamkan Liyan di Asia Tenggara’ : Tidak Pernah Mudah Menjadi Berbeda.

  Menyambut ulang tahunnya ke-18 yang jatuh pada 8 Desember 2018, Yayasan Tifa bekerja sama …

22 comments

  1. pengalaman yang mendebarkan dan penuh inspirasi bagi fotografer lainnya, alangkah bagusnya kalau ada produser film di indonesia yang mau menggangkatnya ke layar lebar.

  2. Hi there!

    This is a good post Kemal Jufri World Press Photo 2011 | Seribu Kata. It seems online copy had far surpassed print news. Even proffesional journalists can’t make it up to what the web writers can provide in terms of informativeness, and conciseness such as on http://www.siol.net. Reading world news online has completely replaced newspaper news for me.

    Best,
    Castellucci Klingel

  3. Acep Abdullah

    Keren banget…

  4. selamat yaaaaaaa

  5. Perjuangan seorang fotografer yg sangat menegangkan dan sekaligus penggugah semangat untuk mendapatkan dan meraih sesuatu yg sangat didambakan…Selamat buat mas Kemal, saya sangat salut sekali dg perjuangannya utk mendapatkan foto2 tsb…..patut dicontoh dan ditiru semangat tsb….

  6. Aprizal Alamsyah

    Tentu saya kecewa, tapi itu juga merupakan realita bekerja untuk sebuah majalah. Bukan sesuatu yang aneh apabila sebuah majalah menugaskan penulis dan fotografer untuk sebuah story dan kemudiantidak menerbitkannya karena satu dan lain hal.

  7. Kawans, terimakasih ya atas dukungannya. Terimaksih juga atas bantuan teman teman di Yogya selama liputan Merapi. Saya juga ingin menyampaikan kekaguman saya pada karya teman teman lain yang meliput Merapi. In my eyes you're all winners!!!

    Oh ya, terimakasih juga dan salam kenal buat Budi Asmarawati yang tanpa saya sadari telah memotret saya pada saat penguburan masal. 🙂

    Last but not least thanks buat Mast Irham dan team yang telah sabar menunggu jawaban saya untuk forum ini 🙂

  8. saya bangga sekali mas kema menang … nama indonesia tercantum, menjadi tuan rumah dinegeri sendiri, bromo malah kita lewat

  9. congratz bung!!!

    mbak budi asmarawati mau motret mas kemal apa mau motret saya ya?

  10. selamat bro, smoga menjadi support fotografer indonesia yang lain untuk juara !

  11. merinding,..salut bro,..nama indonesia tercantum di list winner,..congrat

  12. bangga..

  13. bea

    Kemal memang moy ….. imajinya hebat !

  14. Budi Asmarawati

    Bravo!!! Selamat ya. Next, lebih dan lebih segalanya. Amin YRA.

  15. great work. congratulations! more to come!

  16. congratz bro KJ, tidak hanya WPP tapi juga POYi.. Ucapan selamat untuk yang NPPA udah nunggu untuk diucapkan.
    nama sopirnya mas agus. istri satu, anak satu.

  17. Selamat buat mas Kemal, perrjuangan dan pertaruhannya jadi pembelajaran yang sangat penting buat saya :D.

  18. Selamat Mas Kemal "Photo's Beyond " Jufri…memang layak MENANG.

  19. Inpiratif untuk anak muda agar tetap belajar dan bekerja keras.
    Baca wawancaranya bikin ciut nyali.
    Selamat Mas 🙂

  20. Tegang juga baca ceritanya. Selamat buat Kemal.

  21. Selamat buat Kemal kita ikut bangga!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.